SGI, "Katumpuno Laloku"
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Rabu, 24 Februari 2016 12:02:51
SGI, "Katumpuno Laloku"
 
Guru Konsultan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa

Hidup ini adalah misteri. Itulah istilah paling tepat untuk menggambarkan takdirku ketika akhirnya berada di dalam pembinaan Sekolah Guru Indonesia-Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa. Tidak pernah terbayangkan, bahkan terlintas pun tidak. Melakukan perjalanan ke Bogor seorang diri dan untuk pertama kalinya adalah hal yang sangat kontroversial di dalam batinku. Saat itu, aku baru saja lulus dari Pendidikan Fisika KIP 
Universitas Riau. 

Bahkan toga belum sempat kupakai ketika aku mengirim berkas kepada panitia seleksi Sekolah Guru Indonesia (SGI)-Dompet Dhuafa. Pikiranku sedang dilanda berbagai permasalahan yang harus segera kuselesaikan. Diantaranya adalah mencari sosok yang tepat untuk menggantikan diriku sebagai bendahara asrama. Mendapatkan finansial 
untuk keberangkatan orang tua menghadiri wisudaku. Memikirkan biaya hidup menjelang wisuda dan ke depannya. Menyelesaikan sangkutan materi yang menjadi sisa-sisa perjuangan menyelesaikan studi S1-ku. Ketika itu aku sudah bekerja kurang lebih seminggu. 

Menjadi guru? Belum. Bekerja di sebuah toko busana muslim distributor wilayah Riau yang cukup ternama di Indonesia. Secara lisan, tenaga dan pikiranku sudah dikontrak untuk setahun lamanya sebagai kepala cabang salah satu toko tersebut. Hitam di atas putih belum bisa bersaksi. Tapi hati, tidak bisa memungkiri.

Beberapa hari setelah wisuda, kelulusan Mahasiswa SGI angkatan XVI pun diumumkan. Di bawah hujan deras di saat maghrib sepulangku dari toko menuju asrama melintasi jalan kecil, kubuka pesan singkat itu. Badan yang letih setelah perjalanan jauh menggunakan oplet (angkot) semakin lunglai kurasakan. Bahagia tapi juga sedih. Bahagia 
tersebab lulus dan sedih harus meninggalkan kampung dan orang tuaku. 

Bingung bagaimana aku harus bisa sampai ke Bogor dengan berbagai masalah finansial yang menuntut segera kuselesaikan. Resah bagaimana meminta izin kepada orang tua terutama ibu. Gajiku bulan ini sudah kuambil di depan untuk menutupi segala keperluan wisudaku. Hal yang paling krusial adalah bagaimana cara untuk membatalkan kontrak lisanku yang akan segera kutandatangani di atas materai dua hari sebelum keberangkatan ke Bogor. Aku menangis, tapi tangisan itu tidak sedikitpun memberikan solusi. Istikharah di antara dua pilihan. Meninggalkan 
pekerjaanku atau mengundurkan diri dari SGI-DD. Aku semakin kalut. 

Setiap jum’at adalah briefing mingguan untuk seluruh pegawai toko dimana aku bekerja. Izin keluar dari pekerjaan sudah kusampaikan. Barangkali hari ini adalah bumerang bagiku. Sejak pagi jiwaku bergejolak. Bersiap-siap dengan segala hal yang akan aku terima. 

Yah, kajian mingguan kala itu terasa begitu panjang bagiku. Tentang kisah-kisah Rasulullah dan shohabiah, tentang bagaimana menunaikan hak dan kewajiban. Hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa aku telah mendzholimi saudaraku sesama muslim atas berhentinya aku dari pekerjaan ini. Di depan semua karyawan wajahku memerah, diperparah dengan hp-ku yang terus berdering. Sebuah panggilan dari salah seorang karyawan Dompet Dhuafa Riau 
yang memberi kabar bahwa tiket pesawat telah dipesan. Sekuat tenaga kutahan air mata itu mengalir. 

Sedikit lagi akan tertumpah kalau saja aku tidak malu pada pasang-pasang mata yang menatapku kala itu. Yah, aku pergi ke Bogor dengan tiket dari DD-Riau. Pak Sunarto, pimpinan DD-Riau sebelum tahun 2016 telah memberiku wejangan panjang agar aku lanjutkan SGI.  

Malam harinya aku tersedu di hadapan sahabatku. Kuputuskan, aku akan mengundurkan diri dari SGI-DD. Aku juga akan resign dari pekerjaanku. Tapi sebelum resign aku akan menjalankan kewajibanku mengurus toko sampai pimpinanku menemukan orang yang benar-benar bisa beliau percaya untuk menggantikanku. Setidaknya itu akan 
cukup membuktikan bahwa aku tidak berniat mendzholimi siapapun. Aku hanya ingin mengikuti keinginan ayahku yang ingin agar aku bisa bekerja di dunia pendidikan dan juga lembaga sosial masyarakat. Setelah itu, aku siap menanggung semua resiko bahwa aku harus berjuang lagi untuk mendapatkan pekerjaan. Man jadda wa jada. Itu gasoline semangatku.

"Mbak Ty, mbak gak akan pernah bisa mengikuti kemauan semua orang. Sesekali tak apa, memberontaklah untuk mendapat apa yang mbak inginkan.” Kata Vina, sahabatku."Tapi ini perkara dzholim Vi. Kalau seandainya umurku tak panjang, kemudian pesawat yang kutumpangi tidak selamat, bagaimana aku mempertanggung jawabkan semua 
itu?” Tukasku.

 
 
Guru Konsultan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa

Dia menimpali, "Insya Allah mbak akan selamat sampai tujuan. Kalau ternyata tidak, aku yang akan jadi jaminanmu. Aku yang akan mengunjungi pimpinanmu untuk meminta maaf. Aku yang akan tanggung semua masalah  finansial-mu yang lainnya mbak. Pergilah, ini jalan Allah untukmu".Aku semakin tersedu. Malam harinya, dia membantu semua perlengkapan yang harus aku bawa ke Bogor, mulai dari tas sampai pakaian. Lalu dia menambahkan, 

"Mbak, walaupun sebenarnya aku sedih karena mbak gak bisa hadir di akadku nanti, tapi aku tetap ingin yang terbaik untukmu". Tambahnya. Lagi-lagi Cuma air mataku yang bisa menjawab. Bahkan mataku tak sanggup menatap. Di kepalaku berjejalan ketakutan-ketakutan yang aku tidak tahu darimana dan kemana arahnya. Ambigu.Tibalah di hari keberangkatan. Hari yang bersejarah. Kepergianku dilepas oleh sahabatku, Vina dan kak Resha (alumni SGI VII) beserta suaminya. Sebelum terbang, sahabatku melepaskan jam di tangannya lalu memakaikan jam tersebut di pergelangan tangan kiriku sembari bergumam,"Mbak, langsung kabari aku kalau mbak sudah mendarat ya". 

Kak Resha juga menimpali, "Ada banyak hal yang akan Kitty temui disana. Nikmatilah".Sesampainya disana, Haru, Ketika aku kali pertama memandang nama-nama para sahabat yang juga pada hari itu menjadi bagian dari Sekolah Guru Indonesia. Entah perasaan apa yang menggelayutiku. Campur aduk. Lalu akhirnya tumpah ruah ketika aku bertemu dengan beberapa diantara mereka di bandara penjemputan. Yah, teman-teman yang tiba di terminal 
penjemputan dan mereka yang langsung datang ke kampus SGI juga sedikit banyak merasakan hal yang sama tentunya. 

Setibanya di asrama, aku tak mampu melarungkan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya memenuhi benakku. Semuanya berbalik kepada diriku. Tentang bagaimana sebenarnya SGI, juga tentang siapa dan bagaimanakah teman-teman seperjuanganku. Hingga di hari perkenalan itu, kami bagian dari Sekolah Guru Indonesia angkatan ke- XVI terdiri dari 19 orang memulai proses indah untuk saling memahami. Kami adalah pendekar "Laskar Nusantara"siap menggenggam Indonesia.

Empat hari pertama begitu mengesankan. Menyisakan tangis, tawa, lelah, kesal, benci. Segalanya jadi satu. Bahkan ada beberapa teman yang sempat berpikir untuk mengakhiri proses ini. Yah, tidak kuat maka pulang. Tapi, di tengah perjalanan orientasi, kami menemukan sebuah jargon dari Kopassus yang pada akhirnya menguatkan kami. 

"Sama-sama kuat. Sama-sama kuat". Setelah selesai masa orientasi, kenangan bersama kopassus pun tidak benar-benar menjadi kenangan sebab hampir setiap hari kami ceritakan kembali. 

Dua minggu setelah pembinaan, aku mendapat kabar dari sahabat-sahabatku bahwa toko dimana akau dulu bekerja hangus terbakar dilalap sang jago merah. 20 orang menjadi korbannya. Disinilah hikmah itu semakin kulihat jelas. Alhamdulillah ‘ala kulli hallin.

Perkuliahan di kampus SGI memberi kesan yang berarti. Mengubah paradigma kami tentang bagaimana sejatinya seorang guru,  yaitu ‘guru sadar’ juga menggali banyak pelajaran tentang menjadi guru 3p yaitu pengajar, pendidik dan pemimpin. Rumah SGI memberikan banyak kesan untukku. Kesan “Anak emasnya Ibu Lurah angkatan XVI yaitu Shoffie Afrianur” dan banyak kesan-kesan lainnya. Mungkin itulah salah satu hal yang selalu bisa menghiburku ketika aku sedang dilanda kegalauan. Rasa minder dan merasa paling tidak pantas di SGI membersamai semua teman-teman yang lain tak jarang menghantuiku. 

Yah, teman-temanku orang-orang luar biasa. Prestasi dan pengalaman mereka dalam hidup jauh dari apa yang aku punya. Seperti kata salah seorang sahabatku, Agung Rakhmad Kurniawan bahwa ketika teman-temanku begitu semangat mengejar prestasi, aku sendiri masih belajar memberanikan diri. Sampai-sampai aku tidak bisa menyembunyikan kerisauanku di kelas. 

Menginjak bulan kedua, teori yang kami dapatkan di kampus SGI harus kami praktikkan. SGI menyebutnya ‘magang’. Penempatan magang ini dilakukan di 3 sekolah yang ada di desa Jampang yaitu SDN Tegal Jaya 2, SDN Tegal Jaya 3 dan MI Nurul Islamiyah. 

Setelah pembekalan selama hampir dua purnama kami pun ditempatkan di Tasik Malaya untuk melaksanakan kegiatan SHARE (SGI Help and Care) dengan program mendampingi orang tua untuk membiasakan anak membaca buku. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil dari setiap perjalanan kami. Sungguh mengesankan, Share membuat kami 
lebih dekat dan semakin erat. Aku bahkan merasa memiliki keluarga baru. Mereka adalah rekan SHARE-ku. Achmad Salido dan Shalipp Sanri Geolfano. Raka dan rai biasa aku memanggil mereka.  Mereka sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Dua orang laki-laki yang memperlakukanku sebagai adik. Dengan cara yang unik menurutku. 
Mereka mempunyai program pribadi untuk merubah sifatku yang terlalu pendiam. Mereka menggunakan prinsip "teori terbalik" untuk memotivasi dan membimbingku. Bahkan di dalam gurauan dan pem-bully-an mereka selalu terselip pesan-pesan tersirat untukku. Mereka ingin aku bisa mengatasi sifat pemaluku yang berlebihan. Satu purnama yang tak akan pernah kulupakan sampai kelak di akhir purnamaku. Aku pun menemukan dua kata unik dari bahasa 
daerah mereka, bahasa muna. “Katumpuno laloku” yang artinya "Terima kasihku". 

Itulah dua kata yang paling tepat untuk kupersembahkan kepada SGI yang telah memberikanku banyak hal. Ilmu, pengalaman, makna berharga, arti perjuangan sampai sahabat dan keluarga baru dari suku yang berbeda-beda.
Selesai SHARE, kami pun harus mempersiapkan diri untuk memulai perjuangan di penempatan di beberapa daerah marginal atau terbelakang selama 12 purnama. Rasa cemas, takut, juga semangat menggebu-gebu jadi satu. Kami laskar Nusantara beserta daerah penempatan masing-masing adalah: Kategori sekolah beranda adalah Kitty Andriany asal Riau dan Siti Kurniawati asal Medan penempatan Kp. Meranti, Riau, Achmad Salido dan Shalipp Sanri Geolfano dari Sulawesi Tenggara penempatan Nunukan, Kalimantan Utara, serta Saidina Ali dan Hamidun asal Pontianak penempatan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. 

Kategori sekolah desa diantaranya Forta Oktariansah asal Palembang dan Andri Yulian Christyanto asal Ponorogo penempatan Muratara, Sumatera Selatan, M. Syaeful Bahri asal Tegal, Jawa Tengah dan Agung Rakhmad Kurniawan asal Palembang penempatan Tasik Malaya, Jawa Barat, Fitri Ayu Indriasari asal Tulungagung, Jawa Timur dan Siti Sahauni asal Banten penempatan Serang, Banten, Sumarni dan Rokhani dari NTB penempatan Manggarai Barat, NTT serta Sofiyan Hadi asal Bekasi dan Muhammad Firman asal Sulawesi Tengah penempatan Poliwali Mandar, Sulawesi Barat. Kategori sekolah kota dan sekolah urban masing-masing adalah Benning Rizahra asal Kuningan, Jawa Barat penempatan Cianjur, Jawa Barat serta Shoffie Afrianur asal Jakarta dan Arby’in Pratiwi asal Purworejo, Jawa 
Tengah penempatan DKI Jakarta. Teman-teman, sahabatku, keluargaku, walaupun kini kita berjauhan, percayalah kita selalu ada bersama. Karena alamat jiwaku adalah nama kalian. 

Kita mungkin akan jauh di mata dan di raga, Tapi yakinlah bahwa kita akan selalu dekat dalam do’a. Meski satu purnama belum usai aku jalani tanpa kalian. Tapi rinduku telah merekah. Merekah untuk segera dipetik. Perjalanan dan perjuangan kita selama tiga purnama melekat kuat di hatiku. Sahabat dan SGI,”Katumpuno Laloku.” Kita sama-sama kuat. Insya Allah.

Penulis: 


Kitty Andriany, S.Pd. 
(Guru Konsultan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa)

 
 
INFO TERKAIT 
 Senin, 26 Maret 2018 10:03:43
Persoalan Klasik Daftar Pemilih
 Minggu, 17 Desember 2017 12:12:17
PERS Bebas Bukan "Liar" Tanpa Aturan
 Selasa, 10 Oktober 2017 08:10:15
Konstelasi Politik Jelang Pilgub Riau 2018
 Senin, 02 Oktober 2017 10:10:31
Nasib 300 Desa Pasca Perda RTRWP Riau di Ketok Palu
 Senin, 02 Oktober 2017 10:10:20
Nasib 300 Desa Pasca Perda RTRWP Riau di Ketok Palu
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca