Aku dan Sepenggal Kisahku "Menjadi Relawan itu Menyenangkan”
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Selasa, 08 Maret 2016 08:03:18
Aku dan Sepenggal Kisahku "Menjadi Relawan itu Menyenangkan”
KETERANGAN GAMBAR :
Siti Kurniawati , SKM

BERAWAL dari niat berbagi untuk masyarakat membawaku sampai pada titik yang ku inginkan. Allahurabbi. Sungguh aku sangat bersyukur untuk semuanya saat ini. Berada di salah satu pulau di Provinsi Riau inilah mimpiku semua terealisasi. Bersama rekan bernama mbak Kitty Andriany asal Rokan Hulu, Riau aku berada di sini untuk satu tahun kedepan. 

Salah satu dusun dari Desa di pulau terpisah ini aku menjalaninya selama 12 bulan kedepan. Pulau Rangsang kecamatan Rangsang Pesisir desa Sokop dusun Bandaraya Kepualuan Meranti ini lah tempatku berteduh dari teriknya mentari di siang hari dan dinginnya angin dimalam hari.

Berada di tempat yang jauh berbeda dari biasanya, masyarakat dan adat budaya yang cukup berbeda dari biasanya, sampai makan dan minum jauh berbeda pula dari yang biasanya. Masyarakat dan adat yang berbeda dari yang pernah kutemuai menjadi hadiah teristimewaku saat ini. Ya, suku asli yang biasa disebut dengan suku “AKIT” ini membuat 
aku semakin mencintai keunikan bangsa ini. Namun yang cukup jauh berbeda yakni kondisi geografis yang berbeda sehingga mempengaruhi hasil alam yang berbeda pula. Tanah yang berdasarkan tanah gambut menyebabkan air yang keluar dari mata air berwarna merah kecokelatan dan hutan yang habis terbakar membuatt teriknya mentari disiang hari tak mampu dihalangi untuk sampai kebumi. 

Rasa ingin pulangpun muncul seketika itu, tetapi Allah lagi dan lagi memberiku hadiah, sambutan hangat warga setempat bahkan memperlakukanku bagai ratu di sebuah istana. MasyaAllah. Semua disiapkan oleh masyarakat dan perangkat desa. Rumah, perlengkapannya, kamar mandi yang justru tak terfikir olehku ketika itu. Di dusun Bandaraya yang cukup jauh terpisah dari desanya inilah aku bersama satu orang rekan kerjaku untuk 12 bulan kedepan tinggal. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan anggapan masyarakat kota yang ketika itu bertemu. 

"dari mana dek?", tanya salah seorang bapak parubaya saat itu karena melihat kami dengan atribut lengkap (rompi SGI-DD). "kita dari Bogor pak sedang pengabdian di dusun Bandaraya?”, jawabku dan rekanku. "Dusun Bandaraya dengan suku akit itu?”, tanyanya lagi. “Iya pak”, jawabku. Dalam percakapan singkat ini beliau mengatakan bahwa masyarakat disana masih asli (primitif) hati-hati disana ini dan itu. Tetapi sesampainya disana semua itu berbanding terbalik. Jauh lebih baik dari yang ada di kepalaku saat itu. Mereka sudah rapi secara pakaian, santun dengan orang baru, dan masih banyak lagi yang harus dibenarkan kala itu tentang masyarakat suku 
akit di Bandaraya ini.

Terkait dengan tugasku saat ini yakni menjadi seorang Guru Konsultan pendidikan dari yayasan Dompet Dhuafa, aku harus benar-benar memutar sedikit arah keilmuan yang aku miliki. Belajar dari nol lagi untuk sebuah ilmu baru. Bekal yang kudapat semasa perkuliahan sungguh jauh berbeda dengan yang kujalani saat ini. Ilmu kesehatan  yang 
kujalani selama 4,5 tahun di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU) begitu membuyar dengan kondisiku saat ini. Gejolak bathin yang memang begitu kuat saat itu menjadikanku manusia yang selalu bersyukur dengan rencana ilahi ini. 

Tuhan tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Tuhan akan memberikan sesuatu sesuai dengan yang kita butuhkan. Ya, Itulah aku. Gelar SKM yang kusandang di belakang namaku kini harus mampu tetap kurealisasikan dengan proses yang ku jalani saat ini. Dalam perjalannya aku mencoba selalu mengaitkan hal sekecil mungkin pendidikan kesehatan itu, mulai dari potong kuku, cuci tangan sebelum makan, mandi dua kali sehari dan lain sebagainya. Karena ini pilihanku kala itu yakni "kesehatan adalah bagian dari pendidikan". 

Bandarraya dengan jumlah 63 kepala keluarga. Dan inilah keluarga baruku di 12 purnama nanti. Keunikan adat dan budayanya menambah kebanggan tersendiri bagiku. 

Penerangan yang hanya ada diwaktu tertentu yakni pukul 18.00-24.00. Sumber air bersih dan sarana MCK yang juga jauh dari standart kesehatan, tetapi ini tetap saja menjadi kampung halaman yang selalu dibanggakan oleh masyarakat setempat. Saat saya bertanya kesalah satu warga "kenapa bisa betah tinggal disini bu?” mereka menjawab dengan senyumnya "saya bangga jadi masyarakat sini bu, karena jauh dari keramaian kota yang bising, tanahnya masih subur. Yah memang disini masih gelap gak ada listrik dan airnya seperti itu. Tapi saya betah 
disini bu?” ujar ibu yanti tersipu malu.

Nah, disini jangan lulusan sarjana mencari anak yang tamat SD itu sulit. Karena masyarakat ini baru berkembang sejak 3-4 tahun yang lalu. Baru saat ini saja masyarakat mengerti pentingnya pendidikan. Alhamdulillah masih ada sosok seorang perempuan yang luar biasa mau untuk memberikan waktunya membuat anak-anak suku asli ini melek akasara. 

Ibu Suriati namanya. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru di desa sebelah ini memiliki tanggung jawab moral yang tinggi. Melihat anak-anak suku asli disekitar rumahnya yang hanya ikut bekerja membantu orang tuanya bekerja dan tak satupun kenal yang namanya sekolah. Secara perlahan beliau melakukan pendekatan supaya para orang tua paham bahwa anak-anak ini harus bisa baca, tulis dan hitung. Dan Alhamdulillah. Niat yang baik selalu memiliki hasil yang baik pula. Dengan memnafaatkan fasilitas balai pertemuan inilah bu Ria memberikan cahayanya untuk anak-anak suku Asli ini. Sungguh ini menjadi spirit lagi didalam diriku. 

Untuk 12 purnama kedepan bersama warga kepulauan Meranti dengan suku aslinya suku Akit, aku belajar budaya baru, adat baru, bahkan beradaptasi dengan kondisi alam yang baru. Warga yang dengan antusias menyambut kedatangan kamipun menjadi energi positif bagiku dan terlebih lagi semangat ingin belajar terpancar dari wajah adik-adik di dusun Bandaraya ini.

Aku dan rekanku bertugas di dua pulau sekaligus yakni pulau Rangsang dan pulau Merbau. Untuk di pulau Rangsang inilah aku bersama rekanku mbak Kitty Andriani menetap. Tugas di sini membentuk sekolah Non-formal, membantu sekolah Lokal Jauh dan Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Sekolah dan pendampingan sekolah di SDN 16 Lukit di pulau Merbau. Untuk menempuh perjalanan dari rumah menuju ke sekolah dampingan ini harus menggunakan jalan laut dengan dua kali penyebrangan. Kondisi ombak di laut tidak ada yang tahu akan seperti apa di saat itu. Niat yang kuat menghantarkan kami menuju sekolah dampingan. Di sepnajang perjalanan aku melihat hanya air, kapal, spead dan tanaman bakau. 

Aku perhatikan pohon bakau sepanjang kapal melaju. Meskipun angin, ombak menerpa dengan kondisi yang tak menentu bakau akan tetap diam dan tegar. Aku berusaha menariknya ke dalam diriku. Sekeras apapun ombak menerpa kapal ini, sebanyak apapun rintangan di depan sana maka Hadapi. Dengan begitu aku akan tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.


Penulis:


Siti Kurniawati , SKM
Salam perbatasan Kepulauan Meranti
Semangat Membentang Kebaikan lewat Sekolah Literasi Indonesia

 
INFO TERKAIT 
 Minggu, 29 Juli 2018 11:07:56
Kota Siak Ditetapkan Jdi Cagar Budaya Nasional
 Senin, 26 Maret 2018 10:03:43
Persoalan Klasik Daftar Pemilih
 Minggu, 17 Desember 2017 12:12:17
PERS Bebas Bukan "Liar" Tanpa Aturan
 Selasa, 10 Oktober 2017 08:10:15
Konstelasi Politik Jelang Pilgub Riau 2018
 Senin, 02 Oktober 2017 10:10:31
Nasib 300 Desa Pasca Perda RTRWP Riau di Ketok Palu
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca