Hampir 300 Antropolog Menyerukan Darurat Keindonesiaan
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Kamis, 15 Desember 2016 06:12:27
Hampir 300 Antropolog Menyerukan Darurat Keindonesiaan
KETERANGAN GAMBAR :
Dr. M.Rawa El Amady, M.A. (dosen dan wiraswasta)

PEKANBARU, UTUSANRIAU.CO - Hampir 300 antropolog se Indonesia dari Aceh hingga ke Papua menyampaikan pernyataan sikap dan seruan kepada Pemerintah Indonesia dalam hal ini Presiden Repubublik Indonesia Joko Widodo. Para antropolog yang tergabung dalam “Gerakan Antropolok Untuk Indoneia yang bineka dan inklusif terdiri dari para profesor, para doktor, magister dan sarjana antropologi dari seluruh Universitas di Indonesia seperti Universitas Indonesiaga, Universitas Gajah Mada, Universitas Andalas, Universitas Cendrawasih dan lainnya. Selain dari kalangan akademis begabung juga para profesional di perusahaanperusahaan dalam nenegri dan asing, para peneliti dan para aktivitis.

Gerakan ini dibangun atas dasar peristiwa kebangsaan akhir-akhir ini dengan “Berbagai pertanda jelas memperlihatkan nilai-nilai keindonesiaan kita, termasuk semboyan kebangsaan “Bhinneka Tunggal Ika”, terus menerus digerus.” Pengamatan itulah yang memicu antropolog dari seluruh Indonesia menyatakan Darurat Ke-Indonesia-an. Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 –yang kemudian dipelihara oleh konstitusi dan Pancasila.

Indonesia merupakan rumah bersama dari keragaman agama, ras, etnis, gender, kepercayaan, keyakinan, kelas sosial, dan sudut pandang. Indonesia bukan hanya yakin tapi juga bangga dengan Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tapi satu. Namun beberapa peristiwa belakangan memperlihatkan adanya kelompokkelompok yang mempertajam perbedaan dengan melakukan politik identitas. Sering terlihat upaya yang
justru menegaskan perbedaan, menarik garis batas antara yang satu dan yang lainnya, maupun mengucilkan yang berbeda. Ada pula pemaksaan kehendak atas mereka yang dianggap berbeda. Lebih dari sepuluh tahun terakhir berbagai peristiwa kekerasan dan penyingkiran sudah dicatat para peniliti.

Dalam banyak peristiwa tersebut, pemerintah pusat dan daerah serta aparat penegak hukum sering tampak tidak secara sepenuhnya bisa mengantisipasi dan/atau memberi perlindungan. Tidak sedikit elit politik menggunakan diskursus yang memecah belah dan menggerus nilai keindonesiaan kita. Kampus dan institusi pendidikan juga tidak banyak bertindak. 

Masyarakat pun kerap berkontribusi pada rangkaian kekerasan tersebut. Media sosial dipakai untuk menyebar kebencian secara beringas, tidak dimanfaatkan untuk menggali ilmu pengetahuan. Media sosial kehilangan hakekat sosial dan sering menjadi forum permusuhan. Demikian pernyataan sikap yang di sampaikan Gerakan Antropolog Untuk Indonesia dan Inklusif Riau kepada UTUSANRIAU.CO , kamis (16/12/2016). 

Para antropolog dari sejumlah kota di Indonesia bertukar pikiran dan pekan lalu mencapai kesamaan pandangan. Antropologi mengajarkan, Indonesia yang bhinneka dan beragam adalah konstruksi sosial. Kekerasan, penyingkiran, pembungkaman adalah ancaman pada keindonesiaan kita. 

"Nilai keindonesiaan kita terus digerus. Kami menganggap penting menyatakan darurat keindonesiaan agar semua pihak menyadari
bahwa ini bukan soal kecil. Ini soal siapa dan apa kita sebagai Indonesia” kata Prof. Dr. Meutia F. Swasono, antropolog senior, salah satu penandatangan Salah satu sikap bersama adalah menolak segala bentuk kekerasan dan pemaksaan, penyerangan serta pembungkaman terhadap kelompok agama, ras, etnis, gender, kepercayaan, keyakinan, kelas sosial, atau sudut pandang yang berbeda. Pada saat bersamaan pemerintah -khususnya Panglima TNI dan Kapolridiminta menegakkan hukum secara adil dan independen, yang tidak terpengaruh oleh tekanan kelompok tertentu.

Sementara itu, masyarakat diharapkan berpikir kritis agar tidak dimanfaatkan oleh pihak yang menyebarkan intoleransi dan kebencian. Selain itu, Gerakan Antropolog Untuk Indonesia Yang Bhinneka dan Inklusif menyerukan pula penggunaan media sosial untuk memperluas jalinan persahabatan dan persaudaraan, bukan untuk menyudutkan warga, kelompok, atau golongan lain.

Penyataan sikap dan seruan tersebut semata-mata bertujuan untuk menjaga dan merawat bersama kesatuan Indonesia yang dibangun para perintis bangsa lebih dari 70 tahun lalu. Di tengah tantangan global masa kini dan masa depan, Indonesia harus -dan jelas mampu- bertahan sebagai satu negara besar dengan kearifan keragaman yang dibanggakan. Maka pernyataan sikap dan seruan Darurat Ke-Indonesia-dari para antropolog dari seluruh Indonesia ini memanggil semua anak bangsa untuk bertanggung jawab bersama.**rls

Tertanda

1. Dr. M.Rawa El Amady, M.A. (dosen dan wiraswasta)
2. Dr. Mering Ngo, (Manajemen PT CPI)
3. Zulu Laili Isnaini, M.Si. (Dosen) 

 
INFO TERKAIT 
 Minggu, 29 Juli 2018 11:07:56
Kota Siak Ditetapkan Jdi Cagar Budaya Nasional
 Senin, 26 Maret 2018 10:03:43
Persoalan Klasik Daftar Pemilih
 Minggu, 17 Desember 2017 12:12:17
PERS Bebas Bukan "Liar" Tanpa Aturan
 Selasa, 10 Oktober 2017 08:10:15
Konstelasi Politik Jelang Pilgub Riau 2018
 Senin, 02 Oktober 2017 10:10:31
Nasib 300 Desa Pasca Perda RTRWP Riau di Ketok Palu
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca