Pertanian Terpadu Lab KPAK PETANI Desa Bukit Kerikil Ditinjau Hj Aysah DPRD Bengkalis
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Rabu, 30 August 2017 01:08:29
Pertanian Terpadu Lab KPAK PETANI Desa Bukit Kerikil Ditinjau Hj Aysah DPRD Bengkalis
KETERANGAN GAMBAR :
Pertanian Terpadu Lab KPAK PETANI Desa Bukit Kerikil Ditinjau Hj Aysah DPRD Bengkalis

BUKITKERIKIL, UTUSANRIAU.CO - Menurunnya kualitas kesuburan tanah di perkebunan dan pertanian di Desa Bukit Kerikil Kec. Bandar Laksamana Bengkalis Riau membuat sekelompok masyarakat berusaha mengembalikan kesuburan tanah mereka dengan Pertanian terpadu.

"Hasil perkebunan kelapa sawit kami semakin menurun, harga pupuk anorganik semakin mahal, tanah semakin menjadi pasir dan kami semakin terjerat leher di cengkraman tengkulak. Terbukti lahan para Toke sawit semakin meluas membeli tanah rakyat dan tanah kami sedikit demi sedikit terjual ke para Toke sawit" kata Sahat Hutabarat Kepala Laboratorium Kedaulatan Pangan Agribisnis Kerakyatan Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia ( Lab. KPAK PETANI ) unit Riau yang juga membuka pertanian terintegrasi di Bukit Kerikil.
Untuk mengatasi ketimpangan hasil pertanian ini Lab KPAK PETANI desa Bukit Kerikil juga membuka anak cabang Koperasi Hikmah Bunda.

Mendengar fakta pelaksanaan pertanian terpadu ini, Ibu Aysah dari DPRD BENGKALIS mengajak Kepala UPTD UMKM Koperasi Kec. Bukit Batu Nani Mardiyanti SH sambil mengadakan reses di Bukit Kerikil melihat langsung penerapan pertanian terpadu dan koperasi cabang Hikmah Bunda.

Dengan alat seadanya dan masih manual para anggota Lab. KPAK PETANI di desa Bukit Kerikil tetap semaksimal mungkin membuat Pertanian terpadunya. Untuk memenuhi unsur protein dan pangan keluarganya, para anggota Lab KPAK PETANI ini membuat ternak ikan asli rawa seperti Toman dan juga Lele. 

Untuk menghemat biaya pakan ternak ikan ini mereka membuat pakan sendiri dengan memfermentasi dedak, ampas tahu, daun daun hijauan, tepung ikan dsbnya. Untuk pengganti tepung ikan anggota Lab. KPAK PETANI desa Bukit Kerikil ini juga memelihara belatung. 

Hasil kotoran hewan dari ayam dan sapi termasuk hijauan yang melimpah dibuat pupuk kompos padat dan cair yang bisa untuk pertumbuhan, pembuahan, dan nutrisi tanaman. 
Mereka juga sudah membuat komposer sendiri dengan kearifan lokal termasuk trichoderma secara sederhana.

Untuk tanaman pangan padi sekarang lagi dirintis pembukaan lahan gambut terlantar tanpa bakar. 

Sahat Hutabarat berharap Camat Bandar Laksamana Afrizal jangan menunda nunda lagi tandatangan pembentukan kelompok tani yang diajukan oleh Lab KPAK PETANI di desa Bukit Kerikil.

Sahat Hutabarat juga melihat banyak fasilitas alat pencacah rumput untuk kompos yang diberikan ke beberapa kelompok tani di Bukit Kerikil ternyata tidak digunakan bahkan sudah berkarat, sementara Lab KPAK PETANI desa Bukit Kerikil yang menjalankan pembuatan Kompos nya hanya dengan cara Manual. (yul)
 

 
INFO TERKAIT 
 Rabu, 22 November 2017 11:11:46
Gubri Senang Desa Rambah Muda Jadi Pilot Project Varietas Salak Pusaka
 Rabu, 22 November 2017 11:11:10
Karena Salak Pusaka, Petani Tansmigran di Rohul Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga S2
 Rabu, 22 November 2017 10:11:54
Kas Titipan BI Resmi Beroperasional di Bank Riau Kepri Pasir Pangaraian
 Senin, 20 November 2017 02:11:47
Pemprov Riau dan OJK Luncurkan Program Bebas Rentenir
 Senin, 20 November 2017 02:11:30
Pemprov Riau Minta Arya Duta Setor Rp1,5 Miliar Setahun
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca