Pertanyakan Dana CSR, Masyarakat Kecewa dengan PT. EMA
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Sabtu, 21 Oktober 2017 08:10:12
Pertanyakan Dana CSR, Masyarakat Kecewa dengan PT. EMA
KETERANGAN GAMBAR :
Pengambilan Sampel Dugaan Limbah Pabrik PKS PT EMA

ROKAN HULU, UTUSANRIAU.CO - Selama berdiri dan beroperasi PT. Eluan Mahkota ( EMA) yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit  dan termasuk pabrik kelapa sawit (PKS) yang terdapat di desa sei rokan jaya (Seroja)  kecamatan kepenuhan kabupaten rokan hulu hingga saat ini belum pernah memberikan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada Masyarakat empat desa, Hal tersebut terkuak ketika limbah PKS  perusahaan mencemari sungai empat desa.

Camat Kepenuhan, Recko Roeandra S.Stp didampingi lurah kota tengah, Mustafa kamal, kades kepenuhan timur, Azhar, kades sei rokan jaya , M. Dain dan kades T. Kasmijon mengatakan bahwa  PT. Eluan Mahkota (PT. EMA) dan termasuk pabrik kelapa sawit (PKS) miliknya  merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sangat luas besar di kecamatan kepenuhan.

" Namun sangat kita sayangkan perusahaan sebesar ini sama sekali tidak ada perhatian kepada masyarakat tempatan " ujar Recko.

Pasalnya sampai saat ini masyarakat  empat desa seperti keluruhan kota tengah, desa sei rokan jaya (Seroja) kepenuhan timur, dan kepenuhan hilir belum pernah mendapat Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT.EMA baik berupa bangunan maupun bantuan. " Jelas Recko.

Diungkapkannya, bahkan masyarakat empat desa selama ini hanya mendapat limbah PKS perusahaan yang dibuang kesungai dan pembuangan limbah dilakukan perusahaan setiap tahun terjadi " namun kali merupakan terparah  sehingga mengakibatkan ada ikan mati "

Saya selaku pemerintah tentu sangat menyayangngkan sikap dari menejemen PT EMA yang tidak peduli terhadap masyarakat tempatan bahkan lingkungan warga malah dicemari dengan limbah.

Sungai yang dilewati limbah PKS  yang biasa dimamfaatkan warga baik untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci tidak bisa lagi bisa dimamfaatkan karena sudah tercemar. Terang Recko.

Kita berharap  kejadian yang luar biasa ini merupakan untuk terakhir kalinya, untuk aliran sungai yang terdampak limbah,  perusahaan harus menstrilkan kembali dan menggati ikan yang mati, meski demikian apa yang menjadi tuntutan masyarakat empat desa harus dipenuhi dan 
mempertanggung jawabkan." harapnya.(Ar)

 
INFO TERKAIT 
 Jumat, 07 Desember 2018 04:12:34
GAKKUM LHK Amankan Sudigdo dan 3 Alat Berat Rambah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu
 Selasa, 04 Desember 2018 08:12:53
JMGR: Tanpa SK PS Gambut, Jokowi Tidak Perlu Ke Riau
 Senin, 03 Desember 2018 08:12:18
Potensi Hujan di Riau Hingga April
 Jumat, 30 November 2018 08:11:01
Saat Indonesia Jadi Negara Penyumbang Limbah Plastik Terbesar Dunia, Ibu-ibu Pekanbaru Dirikan Kelompok Perajin Sampah
 Jumat, 23 November 2018 07:11:32
Ir. Selamat, MM: Tahun 2018, TK PPEG Terbentuk di Dua Desa, Tahun Depan Dua Desa lagi
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca