Selain Promosi Pariwisata, Budaya Ritual Mandi Safar Berpengaruh Pada Peningkatan Kesejahteraan Lahir dan Bathin
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Rabu, 15 November 2017 08:11:13
Selain Promosi Pariwisata, Budaya Ritual Mandi Safar Berpengaruh Pada Peningkatan Kesejahteraan Lahir dan Bathin
KETERANGAN GAMBAR :
Event Mandi Syafar 2017, di Pantai Tanjung Lapin Desa Tanjung Puncak Kec. Rupat Utara

BENGKALIS, UTUSANRIAU.CO - Pemerintah Kabupaten Bengkalis menggelar Ritual Mandi Safar di Kecamatan Rupat Utara, Selasa (14/11/17). Kegiatan yang dipusatkan di Tanjung Lapin itu sebagai upaya untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di Kabupaten Bengkalis dan sebagai sarana meningkatkan kreativitas yang yang bernilai ekonomis.

"Budaya ritual Mandi Safar, berpengaruh pada aspek peningkatan kesejahteraan lahir dan  batin. Ada nilai tambah yang dapat diperoleh demi keberhasilan pembangunan kebudayaan di Negeri Junjungan ini," ungkap Bupati Bengkalis, Amril Mukminin.

Nilai tambah tersebut tambahnya, diperoleh dari keberhasilan pengembangan kebudayaan yang mendukung timbulnya pariwisata pemanfaatannya secara ekonomis dapat dirasakan masyarakat.

"Tidak hanya itu, budaya ritual mandi safar mampu menumbuhkan nilai-nilai kesetiakawanan, nasionalisme, cinta terhadap budaya, bertoleransi tinggi dan mampu mempererat tali silaturahmi," ujar Amril.

Sebagaimana diketahui, prosesi ritual mandi safar itu sendiri, diawali dengan iring-iringan delapan pasang anak-anak yang akan dimandikan, menuju sumur tua yang tidak jauh dari lokasi acara seremonial.Sebelum dimandikan, terlebih dahulu dilakukan tepuk tepung tawar, kemudian dengan menggunakan gayung berbahan kayu dan tempurung kelapa ke delapan pasang anak-anak tersebut dimandikan secara bergantian.

Antusias,Hujan yang mengguyur Pulau Rupat sejak subuh, tidak menyurutkan antusias warga untuk menyaksikan ritual mandi Safar di Pantai Tanjung Lapin. Warga baik dari Rupat maupun dari luar Rupat hadir untuk menyaksikan pesta budaya sekaligus menikmati panorama keindahan pantai yang terkenal dengan dengan pasir putihnya itu.

Ritual Mandi Safar merupakan salah satu event yang masuk dalam kalender kegiatan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Bengkalis, untuk kedua kalinya dihadiri Gubernur Riau (Gubri), H Arsyadjuliandi Rachman dan isteri beserta sejumlah pejabat teras di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

Ritual Mandi Safar adalah tradisi masyarakat mandi bersama-sama sebagai simbol dan sekaligus harapan membersihkan diri dari hal-hal yang tidak baik. Tradisi ini didahului dengan doa dilanjutkan tepuk tepung tawar oleh H Arsyadjuliandi Rachman diikuti Kapolda Riau, Irjen Pol Zulkarnain, Danlanal Dumai, Kolonel Laut Yose Al Dino, Bupati Bengkalis Amril Mukminin serta sejumlah pejabat.  

Usai tepuk tepung tawar, secara simbolis, dengan menggunakan gayung berbahan kayu dan tempurung kelapa ke delapan pasang anak-anak tersebut dimandikan secara bergantian.Kegiatan ritual Mandi Safar yang dilaksanakankan tiap tahun ini sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Bengkalis untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di Pulau Rupat. 

Dan menjadikan iven ini sebagai sarana meningkatkan kreativitas yang bernilai ekonomis."Budaya ritual mandi safar, berpengaruh pada aspek peningkatan kesejahteraan lahir dan  batin. 

Ada nilai tambah yang dapat diperoleh demi keberhasilan pembangunan kebudayaan di Negeri Junjungan ini," ungkap Amril.Nilai tambah tersebut tambahnya,  diperoleh dari keberhasilan pengembangan kebudayaan yang mendukung timbulnya pariwisata pemanfaatannya secara ekonomis dapat dirasakan masyarakat."Tidak hanya itu, budaya ritual mandi safar mampu menumbuhkan nilai-nilai kesetiakawanan, nasionalisme, cinta terhadap budaya, bertoleransi tinggi dan mampu mempererat tali silaturahmi," ujar Amril.

Sebagaimana diketahui, prosesi ritual mandi safar itu sendiri, diawali dengan iring-iringan delapan pasang anak-anak yang akan dimandikan, menuju sumur tua yang tidak jauh dari lokasi acara seremonial.Sebelum dimandikan, terlebih dahulu dilakukan tepuk tepung tawar, kemudian dengan menggunakan gayung berbahan kayu dan tempurung kelapa ke delapan pasang anak-anak tersebut dimandikan secara bergantian.(MCR

 
INFO TERKAIT 
 Senin, 28 Mei 2018 04:05:33
Hadiah Festival lampu Colok Tahun Ini Naik 3 kali lipat
  00:00:00
Makna Lomba Sampan Selodang Dimata Said Syarifuddin
 Rabu, 23 Mei 2018 08:05:00
Mendikbud Dukung Muatan Lokal Budaya Melayu Riau
 Selasa, 17 April 2018 06:05:54
Plt Gubernur Riau Ajak Mahasiswa Jaga Marwah Melayu
 Selasa, 15 Mei 2018 10:05:18
Pertahankan Tradisi Adat 10 Suku di Luhak Kepenuhan Ikuti Prosesi Balimau Adat
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca