Bergelar Datuk Seri Ulama Setia Negara, Ustadz Abdul Somad Sampaikan Syair Sindiran
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Selasa, 20 Februari 2018 12:02:38
Bergelar Datuk Seri Ulama Setia Negara, Ustadz Abdul Somad Sampaikan Syair Sindiran
KETERANGAN GAMBAR :
UAS menyampaikan sambutan dalam bentuk syair. (MC Riau/mtr)

PEKANBARU, UTUSANRIAU.CO  - Ustadz Abdul Somad (UAS) resmi bergelar Datuk Seri Ulama Setia Negara, setelah melalui proses penabalan oleh Ketua Majlis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau Al Azhar, didampingi Ketua Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Syahril Abu Bakar.

Usai penabalan tersebut, UAS menyampaikan sambutan dalam bentuk syair. Bait demi bait syair yang disampaikan UAS dengan lantang. Diantaranya mengisahkan tentang perjalanan hidupnya, namun ada juga bernada sindiran tentang kekayaan Riau yang diangkut pusat, namun rakyatnya belumlah sejahtera.

Berikut diantara kutipan bait syair yang disampaikan UAS usai penabalan dirinya, sebagai Datuk Seri Ulama Setia Negara.

Melihat Sungai Nil dan Piramida, bersua dengan Firaun dan Musa. Dari bumi Malaya akhirnya terdampar di Gurun Sahara, hampir sampai ke Barcelona.

Setelah lama mengembara kembali jua ke bumi tercinta. Tanah Siak Sri Indra Pura. Membawa gelar LC MA, banyak orang bertanya-tanya, apalah agaknya artinya? Lagi Cemas Mencari Anak dara.

Nasihat orang tua-tua berlayarlah di pokok yang gagah perkasa. Barangnya jadi penyengga, akarnya tempat bersila.

Bersilaturrahim ke rumah doktor Mustafa. Rumah putih di Jalan Gulama. Dia bawa daku sebelum senja. Ke TVRI membawa acara. Bila dia pergi ke Malaysia, dia duduk di singgasana, menjadi guru sekejap mata.

Subuh tiba gelap gulita, mengunjungi mesjid di pagi buta, jamaah pun tak pula ada, banyak tiang dari manusia.

Berbekal sabar dan doa. Nasib baik datang menyapa. Khotbah bergetar dari mesjid raya. Banyak mata terpesona, caci hamun pun ikut terta. Lovers and haters kata anak muda.

Ada pula yang menuduh paksa, dengan fitnah anti Bhineka Tunggal Ika. Diusir dari Pulau Dewata, dideportasi dari Negeri China.

Tapi hati tak rasa geram. Sebab itu belum ada apa-apanya, bila dibanding nabi besar kita, gigi patah dan terluka, namun tetap berbalas doa.

Sungguh tak layak masuk surga, busuk hati terus dipelihara. Orang Melayu cinta negara, 13 juta golden Belanda, diberikan untuk membela bangsa, Sultan Syarif Kasim orang mulia, dari Kerajaan Siak Sri Indra Pura.

Berbaurlah ke Yogyakarta, jangan kau ajar kami tentang cinta negara, kalau bukan karena kami punya bahasa, kau pun tak dapat bertutur kata.

Dendam jangan masuk ke kepala. Masih banyak yang perlu dewasa. Anak Sakai meniti pipa, anak Akit senyum menyapa, Talang Mamak terus menganya, padahal minyak tiada terkira, tapi apa mau dikata, terlampau banyak diangkut ke Jakarta.

Awan berarak mengikuti senja, budak menuju surau mushala, quran di tangan dan alif, ba, ta, tak lupa rotan dibelah dua.

Tapi kini semua dah sirna, semua sudah berganti rupa, budak asyik bermain SEGA, playstation dan warnet beraneka. Batman hingga Mahabarata, sampai Spidermen sarang laba-laba.

Kalaulah tak ada usaha, budak Melayu kan hancur binasa. Melayu hanya tinggal nama, rusak karena AIDS dan narkoba. Menjemput murka dan bencana, wajah menjadi bermuram durja.

Selepas masuk Belanda, banyak orang tak boleh tulis baca, huruf arab berbilang serta, Melayu Riau boleh berbangga, huruf arab merata-rata, dari mesjid hingga kantor walikota. Tapi bila tiba saatnya, huruf arab hanya mantra.

Usai membacakan syair, UAS sempat tersedu terisak-isak. Selama proses menjelang pebalan dirinya UAS yang seorang ulama anak jadi diri Melayu Riau ini, lebih sering menundukan kepalanya.

Hadir pada penabalan gelar ini, Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi mewakili Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim yang berhalangan hadir, karena sedang menghadiri acara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Hadir Ketua DPRD Riau Septina Primawati, Kapolda Riau Irjend Pol Nandang, Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi, Konsul Malaysia Hardi Hamdin.

Sejumlah mantan pejabat yang kini juga menjadi pengurus LAM Riau juga hadir. Diantaranya, mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Syarwan Hamid, mantan Gubernur Riau Saleh Jasit, tiga mantan Wakil Gubernur Riau Mambang Mit, Wan Abubakar, Rivai Rachman.

Selain itu ada juga Datok Seri Setia Amanah yang juga Calon Gubernur Riau (Cagubri) petahana Arsyadjuliandi Rachman, Cagubri lainnya Syamsuar yang juga Bupati Siak non aktif, kemudian dua calon Wakil Gubernur Hardianto dan Edy Natar Nasution, para undangan terdiri dari pejabat dan tokoh masyarakat juga hadir memenuhi ruangan LAM Riau.*mcr

 

 
INFO TERKAIT 
 Rabu, 15 August 2018 07:08:36
Bahas Upaya Peningakatan Pariwisata, Dispapora Kunjungi LAMR Kepulauan Meranti
 Minggu, 12 August 2018 06:08:32
Pemenang Bujang Dara Riau 2018 Berlatar Belakang Polisi
 Kamis, 09 August 2018 08:08:39
Gubri Berharap Bujang dan Dara Jadi Duta Pariwisata
 Selasa, 07 August 2018 04:08:38
Perang Sosoh Dijadikan Film Pendek
 Senin, 30 Juli 2018 12:07:02
Pelatihan Manajemen Destinasi Pariwisata
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca