Bisnis Properti Kendur, Ternyata Hanya Premi Asuransi Umum Cuma Naik Tipis
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Rabu, 28 Februari 2018 08:02:16
Bisnis Properti Kendur, Ternyata Hanya Premi Asuransi Umum Cuma Naik Tipis
KETERANGAN GAMBAR :
Penurunan perolehan premi di lini bisnis asuransi properti dan energi membuat pertumbuhan premi industri asuransi umum tumbuh tipis 2,71 persen pada tahun lalu. (Thinkstock/Kritchanut).

JAKARTA, UTUSANRIAU.CO - Penurunan perolehan premi di lini bisnis asuransi harta benda/properti dan energi membuat pertumbuhan premi industri asuransi umum tumbuh tipis 2,71 persen pada tahun lalu. Yakni, dari Rp61,51 triliun menjadi Rp63,18 triliun.

Laju pertumbuhan premi yang tipis tersebut bahkan lebih rendah dibanding pencapaian tahun 2016 ke 2017 yang sebesar 5,1 persen.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe merinci, pendapatan premi dari asuransi harta benda tercatat turun lima persen. "Kami sempat ekspektasi tumbuh tinggi, terlebih lagi dari proyek properti Meikarta, tetapi nyatanya pertumbuhan di Meikarta tidak sebesar itu," tutur dia, Selasa (27/2).


Lihat juga: Gubernur BI: Rupiah Terguncang Tiga Kali Tahun Ini

Selain itu, perolehan premi asuransi energi di tahun ini, kata Ketua Departemen Statistik, Riset, dan Analisa AAUI Anita Faktasia, juga tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Yakni dari Rp1,82 triliun menjadi hanya Rp1,63 triliun.

"Hal ini karena banyak penundaan eksplorasi lantaran harga minyak dunia tahun lalu tidak terlalu bagus," katanya.

Kendati lini asuransi harta benda melempem di tahun lalu, sumbangsihnya terhadap total pendapatan premi industri masih mendominasi. Menurut Dody, pendapatan premi dari lini asuransi harta benda mencapai Rp18,29 triliun. Diikuti oleh asuransi kendaraan bermotor sebesar Rp17,23 triliun.

"Dua lini usaha ini menjadi kebutuhan dasar seseorang. Apalagi, di kota besar. Jakarta sendiri paling dominan di lini usaha harta benda," imbuh Dody.

Kontributor premi terbesar ketiga, yaitu asuransi kesehatan. Namun, saat ini, masyarakat banyak mengalihkan kebutuhan perlindungan kesehatannya ke program Jaminan Kesehatan Nasional BPJS Kesehatan. Sehingga, produk asuransi umum di asuransi komersial tak lagi menjadi produk primer mereka.**

Source: cnnindonesia.com

 
INFO TERKAIT 
 Senin, 18 Juni 2018 10:06:09
Pembenahan PKL Kota Tua Perlu Kerjasama Antar SKPD
 Minggu, 10 Juni 2018 05:06:15
IMA Chapter Pekanbaru Bagikan 1000 Paket Sembako
 Jumat, 08 Juni 2018 08:06:02
FKIJK Riau Gelar Buka Bersama dan Santuni 100 Anak Yatim
 Rabu, 06 Juni 2018 10:06:26
Bank Riau KepriRaihThe Best Overall Performance BPD se Indonesia 2018Sabet 5 Kategori dari 7 Kategori
 Rabu, 06 Juni 2018 09:06:29
IMA Chapter Pekanbaru Gelar Buka Bersama dan Santuni Anak Yatim
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca