Petani Karet Rohul Mengeluhkan Harga Karet yang Terjun Bebas
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Selasa, 03 Juli 2018 04:07:34
Petani Karet Rohul Mengeluhkan Harga Karet yang Terjun Bebas
KETERANGAN GAMBAR :
Petani Karet Rohul Mengeluhkan Harga Karet yang Terjun Bebas/ Foto Internet

ROKAN HULU, UTUSANRIAU.CO - Sejumlah petani perkebunan karet di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) mengeluhkan harga komoditi karet yang tak kunjung stabil. 

Mereka berharap kepada pemerintah baik di daerah hingga ke pusat bisa mencarikan solusi, agar harga karet bisa membaik.Seperti yang dirasakan salah seorang petani, Eman warga Kelurahan Pasir Pengaraaian, Kecamatan Rambah. 

Dia menceritakan, akibat terus anjloknya harga karet yang hanya bekisar 5 sampai 6 ribu per kilogramnya, berdampak terhadap penghasilan para petani di sana.  

"Kami heran, persoalan ini sudah lama terjadi, tapi sampai sekarang pemerintah belum dapat mencari solusinya. Kami tidak banyak meminta, cukup stabilkan harga karet, Insyaallah taraf ekonomi petani meningkat," terang Eman kepada wartawan, Selasa (3/7/2018).

Eman mengungkapkan, jika persoalan ini terus berlarut dan belum ada solusi dari pemerintah, tidak menutup kemungkinan akan menambah daftar panjang anak petani putus sekolah, karena orang tuanya yang tidak dapat menyekolahkan, akibat penghasilan yang kian menurun.

Jika dibanding dengan perkebunan sawit yang selalu mendapat dukungan serta diprogramkan oleh pemerintah, ini juga menambah kekecewaan petani karet di daerah berjuluk Negeri Seribu Suluk tersebut.

Diutarakan Eman, untuk perkebunan sawit mengapa cepat mendapat respon dari pemerintah mulai dari harga, produksi sampai ke program peremajaannya (replanting). 

Dan untuk petani karet bertahun-tahun harus merasakan pesakitan, karena harga yang terus anjlok."Sangat minim perhatian pemerintah, kalau pun ada bantuan hanya sebatas bibit. Bukan kami tidak mensyukuri, tapi apalah guna bibit dibantu, hasilnya tidak sesuai," keluhnya.

Eman mengakui, bahwa perkebunan sawit yang cukup luas di Provinsi Riau pada umumnya, menjadikan pemerintah cukup memperhatikan harga komoditi pengahasil minyak makan itu. Namun, kata Eman dampak lingkungan yang diakibatkan sawit lebih besar daripada karet. 

Bukan hanya itu, biaya operasional untuk sawit lebih besar jiak dibandingkan dengan perkebunan karet."Kami hanya bisa berharap, semoga Allah SWT mengetuk hati mereka yang mengambil kebijakan. Semoga mereka bisa memperhatikan kesulitan kami alami sebagai petani karet," harapnya.(mcr/urc) 
 

 
INFO TERKAIT 
 Sabtu, 22 September 2018 12:09:17
Bank Dunia pastikan Indonesia aman dari krisis ekonomi
 Jumat, 21 September 2018 03:09:19
Pemkab Meranti Komit Ciptakan Interpreniur Muda Berdaya Saing
 Kamis, 20 September 2018 05:09:09
Sekda Meranti Buka Rakor ULP se-Provinsi Riau
 Senin, 17 September 2018 06:09:36
Jatah Dikurangi 50 Persen, LPG 3 Kg Langka di Rohul
 Sabtu, 15 September 2018 11:09:42
DPR Minta Bentuk Badan Pangan Nasional
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca