Perang Sosoh Dijadikan Film Pendek
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Selasa, 07 August 2018 04:08:38
Perang Sosoh Dijadikan Film Pendek
KETERANGAN GAMBAR :
Perang Sosoh Dijadikan Film Pendek

BENGKALIS, UTUSANRIAU.CO - Perang Sosoh yang terjadi pada 9 Januari 1949 di Desa Pedekik Kecamatan Bengkalis silam, diangkat menjadi film pendek.

Berawal dari niat dan kegiatan pemuda desa ini menaja Malam Kenduri Kenegaraan yang telah dilaksanakan pada Agustus sejak dua tahun terakhir dengan serangkaian acara yang fokus mengangkat sejarah perjuangan di desa ini, maka disepakati untuk mengangkat Perang Sosoh ke dalam sebuah karya audio video agar ianya menjadi awal yang lebih baik kedepannya.

Proses pengambilan gambar atau shooting perdana Perang Sosoh telah dimulai pada Ahad, 5 Agustus 2018 malam ba'da Isya yang berlokasi di rumah Mbah Ikhsan, tepat di depan Masjid Fisabilillah. Tepat pukul 20.20 WIB, acara diawali dengan pembacaan do'a Dalimi yang dibawakan oleh dan diamkan puluhan kru dan pemain film Perang Sosoh yang mayoritasnya pemuda desa setempat.

Sebelum proses shooting malam itu, beberapa orang anak-anak usia sekolah dasar terlihat berbincang-bincang. "Shooting tu opo," ungkap seorang bocah lanang dalam bahasa Jawa. Mereka terlihat asyik bercengkrama dengan topik film pendek yang skenario ditulis dan disutradarai oleh Musrial Mustafa sang pencipta lagu Negeri Junjungan ini.

"Kami dan kawan-kawan pemuda berharap apa yang kita angkat hari ini menjadi renungan kita semua perlunya mengenal sejarah perjuangan para pahlawan demi kemerdekaan Republik Indonesia. Yang kedua, kita ingin memberikan edukasi kepada adik-adik berupa ilmu tambahan, wawasan pentingnya mengenal beberapa pahlawan Perang Sosoh yang hari ini menjadi bukti sejarah bahwa perang ini pernah terjadi. Kemudian yang ketiga kami berharap ini menjadi karya atau sumbangsih pemikiran pemuda untuk Kabupaten Bengkalis pada umumnya, Pedekik khususnya dan seluruh bangsa ini. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan menjadi film yang sempurna. Ini akan kita teruskan sampai menjadi film yang utuh," ungkap konseptor Malam Kenduri Kenegaraan, Farhan kepada Koranriau.net, Ahad malam, 5 Agustus 2018 setelah selesainya proses shooting perdana.

Film Perang Sosoh masih jauh dari kesempurnaan, Farhan berharap, "Ini menjadi evaluasi bagi kami. Film yang berdurasi 10 sampai 15 menit ini masih jauh dari kesempurnaan. Ada beberapa hal sejarah yang akan kami lengkapi nantinya. Nah, kami berharap dapat mencari sumber-sumber lain sehingga beberapa nama yang hilang, bisa ditemukan. Dan cerita ini bisa kita sempurnakan," tutup Farhan dengan suara sedikit kelelahan.

"Skenario sebuah film apalagi itu film sejarah, kita perlu data-data yang lengkap yang bersumber dari para tokoh pejuang ataupun keluarga pejuang. Catatan-catatan tentang Perang Sosoh ini sangat susah kita dapati sehingga saya dalam menulis skenario film ini terhenti-terhenti sejenak untuk memikirkan benang merah sejarah Perang Sosok di Pedekik ini," kata Musrial Mustafa sang penulis skenario pula.

"Alhamdulillah, malam ini kita mendapatkan apa yang kita harapkan. Saya sendiri menjiwai orang-orang tua dulu berjuang seperti malam inilah," kata Masnawi yang berperan sebagai Imam Bulqin fisabilillah dari Selat Baru seraya mengaku aktingnya bagaikan ada satu kekuatan di luar dirinya.

Sementara itu, di mata seorang tokoh pemuda Kabupaten Bengkalis, Misliadi yang saat ini Ketua Karang Taruna Kabupaten Bengkalis, salut kepada pemuda Pedekik yang kompak dan bisa dijadikan contoh bagi desa-desa lain. "Karena penuh semangat, penuh gagasan-gagasan yang luar biasa untuk membangkitkan desanya supaya kedepannya mungkin desa ini bisa lebih dikenal orang," puji Misliadi.

Misliadi menyayangkan pemerintah daerah dalam beberapa momentum kurang menjadikan Desa Pedekik sebagai destinasi utama. "Seperti dalam ulang tahun Bengkalis, Pedekik yang punya peranan penting tapi tidak pernah dikunjungi oleh pemerintah daerah. Kemudian, napak tilas - napak tilas yang dilakukan katakanlah kurang dijadikan destinasi utama. Ini terbukti dengan beberapa peninggalan yang bisa dibangun oleh pemerintah daerah tidak dibangun," bebernya.

Masih menurut Misliadi, "Bisa saja pemerintah daerah hari ini mencanangkan Desa Pedekik ini menjadi desa wisata sejarah, dibangun beberapa fasilitas pendukung termasuk memelihara rumah peninggalan Kyai Ikhsan ini yang seharusnya telah masuk ke dalam aset atau benda sejarah yang dipelihara pemerintah. Kami harapkan kedepannya, pemerintah daerah memperhatikan hal-hal seperti ini. Sekali lagi, saya katakan salut kepada pemuda Desa Pedekik," tutur Misliadi menutup wawancara.(yul)

 
INFO TERKAIT 
 Rabu, 05 Desember 2018 07:12:50
Novelis NH Dini Tutup Usia
 Selasa, 27 November 2018 02:11:34
Bupati HM Harris Buka Pekan Budaya Riau Kompleks Bersatu dalam Keberagaman Seni dan Budaya
 Minggu, 18 November 2018 08:11:40
Perdana, Taman Desa Muara Dilam Teluk Sakti Rantau Bertuah Digunakan Masyarakat Untuk Prosesi Perlimauan Pernikahan
 Rabu, 14 November 2018 12:11:09
Sang Alang Rilis Lagu "Sontoloyo" yang Bernuansa Karnaval
 Minggu, 11 November 2018 10:11:47
Taman Bunga Direplika Istana Kesultanan Indragiri Mulai ramai Dikunjungi
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca