Ketua DPR Minta Kemendikbud Panggil SMK di Batam Terkait Sel di Sekolah
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Kamis, 13 September 2018 09:09:11
Ketua DPR Minta Kemendikbud Panggil SMK di Batam Terkait Sel di Sekolah
KETERANGAN GAMBAR :
Bambang Soesatyo

UTUSANRIAU.CO, JAKARTA - Setelah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kini giliran Ketua DPR, Bambang Soesatyo menyoroti ditemukannya sebuah sel yang berada dalam lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Batam, Kepulauan Riau.  Sel itu dibuat khusus untuk menghukum siswanya yang dianggap tidak disiplin.

Bambang menegaskan akan memanggil pihak sekolah untuk diminta keterangannya menyangkut fungsi ruangan yang mirip sel tahanan untuk mendisiplinkan siswanya.

“Saya meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memanggil pihak sekolah untuk dimemintai penjelasannya mengenai fungsi ruangan yang mirip sel tahanan itu, “ kata Bamsoet, begitu dia akrab disapa dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (12/9/2018).
Menurut Bamsoet, Kemendikbud harus meminta pertanggungjawaban pihak pengelola sekolah jika sel tersebut digunakan untuk menyekap siswa.

“Harus diminta pertanggungjawaban pihak pengelola sekolah itu jika ada orang tua siswa yang merasa dirugikan, mengingat penerapan disiplin di sekolah tidak harus melalui penyekapan terhadap siswa dan hal tersebut tidak sesuai dengan sistem pendidikan yang berlaku,” tegas Bamsoet.

Dia juga menghimbau masyarakat untuk berperan aktif mengawasi dan melaporkan, apabila menemukan sekolah yang melanggar aturan dalam dunia pendidikan.

Sebelumnya Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Liatyarti mengungkapkan  berdasarkan laporan yang diterima pihaknya sangat terkejut ada SMK memberikan hukuman fisik dan menahan siswanya hingga selama satu hari dengan dalih menertibkan yang tidak disiplin

“Lama penahanan tergantung tingkat kesalahan, bahkan ada siswa yang mengalami penahanan lebih dari satu hari," kata Retno dalam keterangannya.

Retno melanjutkan,  kasus terakhir yang dilaporkan ke KPAD Batam, sang siswa yang diduga melakukan pelanggaran berat sampai tangannya di borgol. “Siswa tersebut mengalami tekanan psikologis karena merasa dipermalukan di media sosial,“ ujarnya. (bam)

 

 
INFO TERKAIT 
 Selasa, 20 November 2018 09:11:29
Triwulan IV TA 2018, Realisasi Program Bansos Pendidikan Mahasiswa Kurang Mampu Capai 90 persen
 Kamis, 15 November 2018 08:11:35
Dewan Sayangkan Anggaran Makan Siswa SMA Plus di Bebankan Wali Murid
 Senin, 12 November 2018 09:11:05
Pemerintah Diminta Ubah Materi dan Pola Ajar Matematika
 Kamis, 08 November 2018 04:11:20
Sambut Hari Pahlawan, Pemuda dan Pelajar Bengkalis Lakukan Napak Tilas
 Rabu, 07 November 2018 05:11:50
Penetapan Hari Santri Nasional Bukti Pemerintah Akui Peran Ulama
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca