BPBD Kampar Waspadai Longsor Susulan
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Rabu, 24 Oktober 2018 10:10:14
BPBD Kampar Waspadai Longsor Susulan
KETERANGAN GAMBAR :
Setengah badan jalan lintas Riau-Sumatera Barat sempat ditutupi material longsoran

UTUSANRIAU.CO, PEKANBARU - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kampar mewaspadai longsor susulan yang sempat melumpuhkan akses transportasi di Jalan Lintas Tengah Sumatera di Kabupaten Kampar, Riau, menuju Provinsi Sumatera Barat.

"Longsor berpotensi terjadi, bahkan bisa lebih parah karena kondisi tebing batu sudah retak-retak," kata Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daearah (BPBD) Kampar, Adi Candra seperti dilansir Antara dari Pekanbaru, Rabu (24/10/2018).

Ia mengatakan sudah ada satu alat berat yang akan disiagakan untuk mengantisipasi apabila terjadi longsor lanjutan.

Sebelumnya, material berupa tanah dan batu-batu besar sampai menutup setengah badan jalan lintas Riau-Sumatera Barat (Sumbar) pada Selasa (23/10) siang. Longsor paling parah di KM 77 Desa Merangin, Kecamatan Kuok, ketika Kampar dilanda hujan deras. Selain itu ada dua titik longsor lainnya tak jauh dari lokasi pertama, namun tidak begitu parah.

Saksi mata di sekitar tempat kejadian mengatakan, lanjutnya, air hujan sempat mengalir deras hingga menggenangi jalan raya sebelum terjadi longsor. "Debit air dorongan dari atas tebing sangat kuat," ujarnya.

Arus lalu lintas kini sudah normal setelah material longsor dibersihkan dengan menggunakan alat berat.

Ini bukan pertama kali terjadi longsor di KM 77 karena kondisi tebing berbatu cukup curam dan mudah terkikis air hujan. Candra mengatakan di sepanjang jalan Riau-Sumbar ada beberapa titik rawan longsor mulai dari KM 77 hingga KM 81.

"Ini bukan yang pertama dan bukan yang terakhir karena kemungkinan (longsor) lebih parah bisa terjadi. Dari KM 77 sampai KM 81 tebing batunya sudah retak-retak dan ini juga jadi aktivitas penambangan batu oleh masyarakat," katanya.

Sementara itu, Stasiun Klimatologi Provinsi Riau mengeluarkan peringatan bahwa pada bulan November 2018 menjadi puncak musim hujan pada tahun ini. Hasil analisis distribusi curah hujan di Riau pada dasarian II Oktober 2018 bervariasi antara 50 hingga lebih dari 300 milimeter/dasarian.

Sebagian besar Riau mengalami hari tanpa hujan kategori sangat pendek dengan persentase 67,65 persen dan kategori masih ada hujan dengan persentase 32,35 persen.

Karena itu, pemerintah daerah juga bisa melakukan persiapan untuk mencegah dampak negatif dari curah hujan yang meningkat, misalkan potensi banjir dan longsor di daerah-daerah rawan.

"Waspada curah hujan pada November 2018 merupakan puncak musim hujan 2018," kata Staf Analisa Stasiun Klimatologi Riau, Ardhitama. (Rik)

 
INFO TERKAIT 
 Kamis, 15 November 2018 09:11:09
BNPB Ingatkan Potensi Bencana di Riau Tinggi
 Kamis, 15 November 2018 08:11:34
Gempa M 5,5 Guncang Mamasa Sulbar, Warga Panik Keluar Rumah
 Kamis, 15 November 2018 08:11:38
Seekor Harimau Berkeliaran di Pemukiman Warga
 Senin, 12 November 2018 09:11:14
Potensi Karhutla 2019 Bakal Meningkat Karena El Nino
 Sabtu, 10 November 2018 10:11:26
Ketua TP PKK Inhil Buka Gerakan Perempuan Tanan dan Pelihara Pohon Tahun 2018
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca