Pemerintah Klaim Industri Sawit Mampu Pangkas Kemiskinan
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Jumat, 02 November 2018 09:11:09
Pemerintah Klaim Industri Sawit Mampu Pangkas Kemiskinan
KETERANGAN GAMBAR :

UTUSANRIAU.CO - Pemerintah mengklaim industri sawit telah membantu sekitar 10 juta orang keluar dari kemiskinan dan dapat mencapai sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) lainnya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut indutsri sawit memiliki peran penting dalam perekomian dan merupakan salah satu penyumbang ekspor terbesar. Ekspor produk sawit berkontribusi sekitar 13,7 persen dari total ekspor tahun lalu sebesar US$168,8 miliar. 

"Industri sawit juga memiliki peran yang sigfnifikan pada ekonomi dalam bentuk kesempatan kerja dan pengurangan kemiskinan," ujar Enggar dalam Konferensi Internasional Sawit (IPOC) 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (1/11/2018). 

Saat ini, menurut dia, industri sawit menjadi sumber pendapatan bagi 5,3 juta pekerja dan menghidupi sebanyak 21 juta orang. Sebanyak 10 juta orang juga diklaim berhasil keluar dari garis kemiskinan berkat industri tersebut. 

"Seiring dengan pertumbuhan industri tersebut, tantangan yang dihadapi juga meningkat terutama terkait kampanye negarif dari sejumlah negara maju," terang dia. 

Enggar memaparkan tiga isu kampanye hitam yang belakangan gencar didengungkan, yakni terkait kesehatan, perusakan dan lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan. 

"Belakangan berkembang isu bahwa minyak sawit dapat menyebabkan kanker jika digunakan secara terus menerus. Saya bukan dokter, tapi bersama industri sedang bekerja sama untuk membuktikan secara akademik bahwa ini tak benar," ungkap dia. 

Sambil berseloroh, Eggar mengaku kerap memakan gorengan tetapi masih sehat di usianya yang saat ini mencapai 67 tahun. 

Terkait isu perusakan lingkungan, lanjut dia, sawit justru terbilang efisien dalam penggunaan lahan dibanding tanaman penghasil minyak lainnya, seperti kedelai dan jagung. Sementara untuk isu pembangunan berkelanjutan, saat ini pemerintah tengah fokus untuk meningkatkan kualitas hidup petani sawit dengan meningkatkan kapasitas produksi mereka. 

Enggar pun menekankan perlu upaya melawan kampanye negatif agar industri sawit tak berakhir sebagai sunset industry. 

Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries Mahendra Siregar menambahkan minyak kelapa sawit tak hanya penting bagi negara produsen, tetapi juga negara konsumen, khususnya negara berkembang. Pasalnya, mereka membutuhkan minyak dengan harga yang terjangkau. 

"Negara berkembang ini penduduknya dan pendapatannya biasanya akan terus berkembang. Mereka membutuhkan minyak yang terjangkau dan sawit mampu memenuhi ini tanpa menghabiskan lahan sebanyak tanaman lainnya," pungkas Mahendra. (Rik)

 
INFO TERKAIT 
 Minggu, 18 November 2018 08:11:05
Disperindag Rohul Sebut Harga Elpiji 3 Kg Ditingkat Pengecer Hanya Boleh Naik Maksimal 3 Ribu
 Sabtu, 17 November 2018 09:11:20
Realisasi Dana Transfer Riau Triwulan III Sebesar Rp16,57 Triliun
 Sabtu, 17 November 2018 09:11:00
Pengembalian Kelebihan Bayar Kegiatan Belum Tutupi Defisit
 Kamis, 15 November 2018 02:11:57
Sanksi Pajak DKI Dihapuskan Berlaku Sebulan Mulai Hari Ini
 Selasa, 13 November 2018 04:11:02
RAPBD Inhu 2019 Sebesar Rp1,2 Triliun Diajukan ke DPRD
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca