Potensi Karhutla 2019 Bakal Meningkat Karena El Nino
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Senin, 12 November 2018 09:11:14
Potensi Karhutla 2019 Bakal Meningkat Karena El Nino
KETERANGAN GAMBAR :
karhutla, ilustrasi

UTUSANRIAU.CO - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mulai mempersiapkan personel pemadam kebakaran Manggala Agni untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla. Pada tahun 2019 diprediksi potensinya akan meningkat karena pengaruh El Nino.

"Siklus lima tahunan kemarau seharusnya terjadi pada 2020, tapi setahun lebih cepat karena ada El Nino juga pada 2019," kata Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim, Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) Wilayah Sumatera, Israr Albar, dalam pernyataan pers seperti dilansir Antara di Pekanbaru, Senin (12/11/2018).

BPPIK adalah unit kerja di bawah KLHK yang menaungi daerah operasional (Daops) di lima provinsi di Sumatera, yakni Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Jambi dan Sumatera Selatan.

Israr menjelaskan pihaknya sudah mempelajari analisa dari empat institusi, yakni Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Biro Meteorolgi Australia, Jamstec dari Jepang, dan juga lembaga meteorologi Amerika Serikat. Hasilnya memprakirkan bahwa pada awal 2019 sudah akan terjadi kemarau yang bisa memicu Karhutla.

"Empat institusi ini menyatakan akan ada peningkatan kemarau panjang, El Nino, pada bulan Februari (dan) Maret. Kita harus antisipasi keadaan karena mungkin akan lebih parah dari 2018," katanya.

El Nino adalah anomali iklim yang mengakibatkan cuaca panas dan kemarau panjang. Hal tersebut di Pulau Sumatera, khususnya di Riau, bisa memicu kebakaran hutan dan lahan.

Israr menyatakan pada tahun depan pihaknya akan menambah personel Manggala Agni jadi 915 orang plus peralatan antisipasi musim kemarau. Ia mengatakan di Sumatera ada 17 Daops Manggala Agni, yang terdiri dari 61 regu. Belum semua regu sudah berjumlah 15 personel, sehingga pada tahun depan akan dilakukan penambahan personel.

"Seperti di Kota Dumai, Riau, masih kurang dua personel sehingga tahun depan akan dilengkapi jadi 15 orang," katanya.

Ia menambahkan, sejak 2016 hingga 2018 terjadi penurunan tren Karhutla di Riau karena pengaruh banyaknya hujan. Meski begitu, berdasarkan jumlah titik panas (hotspot), di Riau tercatat masih terbanyak hotspot dibandingkan daerah lainnya di Sumatera. "Karena di Riau paling luas area lahan gambutnya," katanya.

Ia mengatakan butuh kerja sama semua pihak untuk mengantisipasi Karhutla tahun depan, dan tidak bisa hanya mengandalkan pemadam kebakaran. Israr menyatakan perlu sinergi kuat antara pencegahan, pemadaman kebakaran dengan penegakan hukum dan penanganan setelah kebakaran. (Rik)

 
INFO TERKAIT 
 Kamis, 31 Januari 2019 08:01:05
Gubri tak Ingin Riau jadi Pembuangan Limbah Chevron
 Selasa, 29 Januari 2019 11:01:25
Diduga Merusak Tiga 3 Sungai, Warga Ukui Gugat PT Gandaerah Hendana
 Selasa, 08 Januari 2019 04:01:00
Nazier Foead : 70 Persen Gambut Riau Sudah di Restorasi
 Sabtu, 05 Januari 2019 07:01:18
15 Hektar Lahan Gambut Riau Kembali Terbakar
 Kamis, 03 Januari 2019 10:01:49
Penyu Nyaris Punah, Wakil Ketua Dewan Minta Dibudidayakan
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca