× Home Otonomi Pendidikan Ekonomi Nasional Olahraga Teknologi Hukum Lingkungan Religion Kesehatan Politik Kampus Pekanbaru Rokan Hulu Rokan Hilir Kampar Kuansing Pelalawan Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Meranti Siak Dumai
Meski di Hantam Pandemi Covid -19, Diperkirakan Investasi Properti Bangkit 2021

ekonomi | Minggu, 8 November 2020

Meski di Hantam Pandemi Covid -19, Diperkirakan Investasi Properti Bangkit 2021/sumber foto lamudi.com/foto internet

UTUSANRIAU.CO, JAKARTA - Dampak Pandemi covid-19 telah menghantam beberapa sektor industri termasuk properti. Terutama dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurut laporan Jones Lang LaSalle (JLL), dampak pandemi terhadap pasar properti di Asia Pasifik terasa lebih kuat pada kuartal II-2020 dibanding kuartal sebelumnya.

 Asia Pasifik, sektor ritel yang paling terdampak karena adanya PSBB dan larangan perjalanan sehingga memangkas permintaan di kuartal II-2020.

Pasar sewa ritel di Hong Kong tercatat melemah -13,3 persen mencatatkan penurunan terdalam di antara pasar-pasar utama di Asia Pasifik.

Biaya sewa juga menurun di sebagian besar Asia Tenggara, seperti Singapura -8,5 yang mencatatkan pengurangan harga yang paling signifikan.

Sektor logistik dan industri merupakan yang paling tangguh di wilayah ini selama kuartal kedua. Pertumbuhan sewa tetap positif di Shanghai dengan kenaikan tipis 1,2 persen dan Sydney 1,0 persen.

Chief Research Officer JLL Asia Pacific JLL Roddy Allan mengatakan masih terdapat ketidakpastian mengenai prospek pertumbuhan dan pemulihan di tengah pandemi covid-19. Penawaran dan permintaan akan tetap menjadi pendorong utama untuk kinerja sewa.

"Namun setiap negara masih melalui tahapan karantina wilayah dan ini tentu akan berdampak langsung pada permintaan," jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 Juli 2020. Dikutip dari M.medcom.id.

Menurutnya dampak covid-19 akan tetap terasa, namun hasil kajian JLL menunjukkan bahwa investor akan kembali ke pasar pada paruh kedua dengan optimistis.

"Kami percaya investasi akan meningkat lebih cepat pada awal 2021," ungkapnya.

Dengan penurunan tingkat suku bunga pinjaman di sebagian besar pasar utama, data dari JLL menunjukkan bahwa prime yield dan bond yield berada di batas yang aman di sebagian besar sektor di Asia Pasifik.

"Hal ini menciptakan pasar yang menarik untuk investor luar yang ingin menempatkan dana sekitar USD40 miliar dalam bentuk cash di kawasan tersebut," katanya. **

Sumber: medcom.id