Home | Internasional | Nasional
     
Minggu, 23 April 2017 11:04:21
Upaya Pengembangan Pangan Lokal, Kadis DKP Riau Lakukan Lawatan ke BPPT Serpong
 
Kepala Dinas Ketahanan pangan Provinsi Riau Ir. Darmansyah saat menikmati makanan khas dari sagu saat melakukan lawatan di BPPT Serpong

PEKANBARU, UTUSANRIAU.CO - Apa yang terlintas di pikiran kita begitu mendengar kata "sagu"? Mungkin sebagian besar dari kita langsung terpikir bahan makanan ini biasa diolah menjadi kue kering, bubur sagu, hingga makanan khas seperti papeda, namun, ternyata sagu kerap digunakan sebagai bahan tambahan untuk berbagai produk industri dan energi.

Sagu, makanan pokok masyarakat Indonesia bagian timur yang tak asing terdengar di telinga. Kini sagu bisa dikembangkan jadi beras. Sagu beras atau beras sagu tak jadi masalah, yang penting sagu yang dibentuk butiran beras dan bila dimasak serupa nasi ini bisa menjadi bahan pangan alternatif bagi masyarakat Indonesia.

Dan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil mengembangkan sagu menjadi beras sebagai upaya merespon ketergantungan Indonesia terhadap beras padi, kata Kepala Dinas Ketahanan pangan Provinsi Riau Ir. Darmansyah melalui Abdul Hannan, SP, MT Kasubag Program dan perencanaan Dinas Ketahanan pangan Provinsi Riau, saat melakukan lawatan ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Menurut Abdul Hannan, SP, MT Kasubag Program dan perencanaan Dinas Ketahanan pangan Provinsi Riau, hasil dari BPPT, tak hanya tepung dari batangnya yang berguna, tapi juga kulit pohon dan ampas sagu bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. 

Selanjutnya, kunjungan Kepala Dinas Ketahanan pangan Provinsi Riau Ir. Darmansyah di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong Jawa Barat itu dalam rangka "pengembangan pangan lokal". 

Focus Group Discussion (FGD) ini di pimpin oleh Dr. Hardaning Paramuda dan Team, kunjungan di laksanakan di Laboratorium Lapti AB dilanjutkan dengan demo pengolahan, testomoni dan mencicipi makanan yang sudah di produksi prototipe nya oleh BPPT Serpong, diantara produk yangg sudah ada adalah:

1. Beras analog sagu
2. Mie sagu kering
3. MIE instan sagu
4. Makaroni sagu

 
 
Kepala Dinas Ketahanan pangan Provinsi Riau Ir. Darmansyah saat menggelar pertemuan dalam lawatannya di BPPT Serpong

Beras Analog Sagu

Beras analog yang dikembangkan BPPT, tambahnya, disamping teknik proses produksinya juga dikembangkan atau peralatan produksinya. Diseminasi teknologi juga telah dilakukan melalui pelaku usaha (UKM) di beberapa daerah.

Yang paling penting, beras analog ini menggunakan bahan  baku lokal, sehingga  mengurangi ketergantungan akan pangan impor, termasuk  impor beras," kata Listyani sebagaimana  di kutif dari laman bppt.go.id.

Sebagai informasi, sebelumnya media memberitakan hasil analisa PT Sucofindo bahwa selain mengandung polyvinyl chloride, beras plastik juga mengandung bahan bersifat plastisizer plastik seperti benzyl butyl phtalate (BBT), Bis 2-ethylhexyl phtalate (DEHP), dan diisononyl phtalate (DNIP). Ketiga bahan tersebut merupakan pelembut yang biasa digunakan bersamaan dengan polyvinyl chloride.

Listyani menjelaskan bahwa ketiga bahan tersebut digunakan untuk membuat (mencetak) beras yang mengandung senyawa polyvinyl chloride sehingga mirip seperti aslinya.  Bahan-bahan tersebut adalah jenis produk turunan dari hasil tambang minyak bumi atau produk petrokimia yang peruntukannya untuk pembuatan barang-barang plastik contohnya pipa, yang tentu saja sangat tidak layak dan berbahaya bila dikonsumsi.

Beras plastik, jelasnya lagi, dibuat dari pati atau tepung yang yang dicampur dengan bahan dan bahan pembantu dari produk petrokimia diperkirakan untuk mendapatkan harga yang murah. "Patut diduga bahwa motivasi produsennya adalah untuk meraup keuntungan semata. Kasus ini mengingatkan kita akan kasus susu yang mengandung melamin," tegasnya.

Mie sagu kering

Dari sisi karbohidrat, sagu ternyata memiliki kandungan karbohidrat sangat tinggi. Sedangkan terigu kaya akan gizi lainnya seperti protein, lemak dan sifat yang dapat mengembang. Sementara dari sisi keawetan, jika disimpan dengan kadar air sama, mie sagu akan lebih tahan lama dibanding mie terigu.

Dengan memanfaatkan bahan baku lokal, ini berarti menunjang Peraturan Presiden No 22 th 2009 tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Pati sagu, bahkan diketahui mengandung resisten starch yang bertahan lama di usus dan bermanfaat bagi mikroba di usus, jelas Bambang.

Tidak seperti yang diyakini masyarakat selama ini bahwa jika terlalu banyak mengkonsumsi mie akan berbahaya bagi usus, mie sagu ini sama sekali tidak berbahaya bagi usus. Kandungannya yang hanya terdiri dari karbohidrat, menjadikan mie sagu tidak memiliki efek negatif bagi usus. Bahkan mie sagu dengan resisten starch nya menjadi probiotik bagi usus sehingga dapat melancarkan pencernaan. Mengkonsumsi mie sagu secara rutin juga diyakini dapat menjaga kesehatan terutama bagi penderita diabetes, sumber bppt.go.id.

Mie Instan Sagu

Sebagaimana di kutif dari laman http://www.jpnn.com dari ekpos Hasyim Bintoro, pakar sagu dari Institut Pertanian Bogor ‎(IPB) menyebutkan bahwa mengonsumsi mie instan tiap hari ternyata bisa menjaga kesehatan terutama bagi para penderita diabetas. Namun, bukan mie instan yang berbahan dasar terigu melainkan sagu.

‎Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Selain itu, dari segi keawetan jika disimpan dengan kadar air sama, mie sagu akan lebih tahan lama dibanding mie terigu.

"Sagu memiliki kandungan karbohidrat yang sangat tinggi sehingga mie berbahan dasar sagu tidak memiliki efek negatif bagi usus. Sedangkan terigu kaya akan gizi lainnya seperti protein dan lemak yang memiliki sifat mengembang," kata Hasyim Bintoro, pakar sagu dari Institut Pertanian Bogor ‎(IPB).

Perekayasa PTA BPPT ini‎ menambahkan, bila sagu dimanfaatkan secara optimal, sangat mungkin menggantikan komoditas penghasil karbohidrat lainnya (padi, jagung, gandum, dan lain-lain). Bahkan hasil penelitian BB Pasca panen menunjukkan pati sagu di Papua telah memenuhi SNI. 
‎‎
Namun demikian, para ahli melihat pengembangan tanaman sagu di Indonesia masih sangat terbatas dibandingkan dengan pengembangan pangan lainnya. Bahkan di Maluku, tempat di mana sagu merupakan pangan utama, saat ini cenderung beralih ke beras.

Menurut para ahli, hal ini terjadi karena beberapa faktor seperti banyak transmigran dan pemerintah daerah yang men–konversi lahan sagu menjadi lahan sawah yang tentunya berakibat pada turunnya produksi sagu. Selain dari itu, banyak masyarakat setempat maupun nasional beranggapan bahwa beras merupakan komoditas yang lebih “bergengsi” dan meningkatkan status sosial dibandingkan dengan menanam sagu. ‎

"Sagu adalah sebuah komoditas yang potensial dan menarik. Saya yakin bila dikelola baik dan berkelanjutan, tidak akan diragukan lagi selain mendukung komitmen pemerintah dalam ketahanan pangan, juga bisa menjadi sumber pangan potensial untuk memenuhi kebutuhan kalori seluru penduduk Indonesia,” tutup Prof Hasyim. 

 
 
Ibu Negara Tertarik Aneka Ragam Pangan Sagu Riau dalam lawatannya di Provinsi Riau beberapa waktu lalu

Makaroni sagu

dikutif dari laman http://www.bppt.go.id menyebutkan pada tahun 2010, konsumsi sumber karbohidrat masyarakat Indonesia 78 persennya didominasi beras, 17 persen terigu, dan hanya 5 persen mengonsumsi umbi dan biji-bijian. Sumber karbohidrat dari umbi dan biji-bijian ini umumnya dikonsumsi sebagai kudapan dan aneka makanan ringan saja, belum sebagai pangan pokok layaknya beras. Konsumsi beras rata-rata rakyat Indonesia tergolong sangat tinggi untuk kawasan Asia, tiap tahun rata-rata beras yang dikonsumsi  mencapai 139 kilogram, sementara  Malaysia mengkonsumsi  80 kg. Bandingkan dengan rata-rata dunia dimana konsumsinya hanya 60 kg/kapita/tahun.

Dibalik tingginya konsumsi beras juga muncul fenomena menarik di negeri ini, ketika pemerintah berusaha menekan konsumsi beras, maka yang terjadi adalah terigu menggantikan beras. Masyarakat  mulai mengonsumsi mie instan dan roti sebagai pengganti beras. Mie dan roti yang dibuat dari tepung terigu mulai diterima luas oleh masyarakat sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti beras.

Sungguh dilematis, kita ketahui bahwa tanaman gandum sebagai sumber terigu tidak dapat tumbuh baik di Indonesia dan bahkan seluruh kebutuhan gandum kita yang mencapai 6 juta ton per tahun (senilai + Rp. 25 trilyun) dipenuhi dengan impor dari berbagai negara.

Terkait hal tadi juga telah dibuat Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis sumber daya lokal. Namun kenyataannya kebijakan ini belum dapat menekan ketergantungan beras dan terigu sebagai sumber pangan pokok. Sementara potensi sumber karbohidrat lokal, seperti : jagung, singkong, sagu, dan lainnya,  yang telah teruji cocok dengan agroklimatnya dan tumbuh baik di Indonesia belum  dimanfaatkan dengan baik. Padahal dengan berbasis bahan baku lokal ini ketahanan pangan kita pasti menjadi kokoh terhadap gangguan pasokan dan sediaan baik akibat bencana alam, gagal panen, bahkan peperangan.


Terkait dengan upaya diversifikasi pangan maka peran Iptek adalah :

(1)   Di sektor hulu, perlu dikembangkan bibit dan budidaya tanaman alternatif sebagai sumber karbohidrat. Jenis tanaman umbi-umbian yang potensial dikembangkan antara lain  adalah ubi jalar, ubi kayu, talas, garut, iles-iles, gadung dan sebagainya. Untuk tanakan biji-bijian antara lain jagung, sorgum, gandum serta tanaman tanaman lain seperti sagu dan sukun.

(2)   Di sektor hilir atau pengolahan, perlu dikembangkan teknologi pengolahan pangan dengan bahan baku lokal. Penepungan sumber karbohidrat lokal (non terigu) merupakan alternatif sediaan bahan baku agar praktis untuk digunakan. Untuk itu diperlukan riset yang memadai untuk setiap bahan baku yang mempunyai karakteristik berbeda. Diperlukan iptek untuk pengembangan berbagai makanan olahan dari berbagai bahan baku, baik berbentuk makanan tradisional maupun makanan lain seperti mie dan roti.

Dalam implentasi pengembangan iptek untuk pengembangan pangan di sektor hilirnya, Pusat Teknologi Agroindustri-BPPT telah melakukan beberapa kajian. Disamping mie sagu, yang telah diproduksi oleh  sebuah UKM di Ambon, PTA-BPPT juga mengembangkan mie dan makaroni dari jagung.  Bila produk pangan yang berbahan terigu dapat diganti dengan bahan jagung maka daerah rawan pangan dapat teratasi dengan sediaan pangan non terigu dan beras.

Keterbatasan penyediaan pangan beras di daerah yang agroklimatnya kurang mendukung, sebenarnya tidak perlu dipaksakan untuk menanam padi. Masyarakat perlu dikenalkan produk-produk pangan non terigu dan beras yang mudah diterima dan diproduksi secara berkelanjutan. Bila ini terjadi, maka pasokan bahan baku untuk pembuatan mie maupun makaroni dari bahan lokal di sisi hulu dapat tersedia selalu dan industri di hilirnya dapat berjalan.

Dengan membuat produk mie dan makaroni berbahan baku lokal ini diharapkan penggunaan terigu dapat dihambat sehingga devisa negara kita tidak dikuras keluar negeri. Dari aspek ketahanan pangan pun bila mie sagu maupun makaroni jagung ini memasyarakat, maka bentuk makanan pokok akan lebih bervariasi, sehingga dapat mendukung kemandirian pangan.

Pusat Teknologi Agroindustri BPPT  juga terus mengembangkan produk pangan berbasis mie dan makaroni berbahan non terigu menggunakan teknologi ekstruder. Dengan semakin banyaknya bentuk mie dari bahan non terigu, ke depan hasil kajian ini dapat diterapkan pada sentra-sentra penghasil karbohidrat seperti sagu, jagung dan ubikayu untuk mendukung ketersediaan bahan pangan karbohidrat.

Menurut Abdul Hannan, SP, MT Kasubag Program dan perencanaan Dinas Ketahanan pangan Provinsi Riau, dari hasil kunjungan Kepala DKP Riau  ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong Jawa Barat, kedepannya bisa jadi DKP Riau akan mengundang pejabat BPPT di serpong untuk membahas sagu di Riau ini dengan Bappeda Riau dan dinas terkait lainnya, untuk membahas tentang olahan sagu riau ini, ungkapnya.** Advertorial