Fanatisme Kedai Kopi
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Selasa, 06 Juni 2017 09:06:39
Fanatisme Kedai Kopi
KETERANGAN GAMBAR :
Raden Mas R. Anindya, SIP, MPA Ketua Presidium Jawa Manunggal Riau Alumni Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada

SAYA beberapa kali menikmati kopi susu di beberapa kedai kopi di Riau, sambil sesekali menguping pembicaraan meja-meja sebelah. Bukan bermaksud menguping pembicaraan orang, namun karena mereka selalu berbicara keras, mau tidak mau juga saya ikut mendengar. 
Ternyata, isu Pilgubri sudah sangat mengedepan, atau setidaknya sudah menjadi isu sentral di beberapa kedai Kopi ini. Isu ini muncul saya kira dari maraknya baliho beberapa figur seperti Bupati, maupun tokoh masyarakat yang lain. Hal tersebut bisa kita maklumi, karena isu Pilgubri dapat dinilai sebagai momen penting, walaupun saya berharap momen penting ini dapat membawa Riau yang lebih baik.

Ada yang membuat saya tertarik, dari beberapa kelompok yang ada, mereka tampak sekali mendukung figur yang mereka pilih. Sehingga, kedai kopi adalah wahana propaganda bagi sekelompok orang untuk 'berkampanye' bagi figur yang mereka dukung. Menarik sebenarnya, namun saya kemudian berpikir, sejauh mana fanatisme mereka dapat diukur dengan harapan untuk kemajuan Riau di masa mendatang?

Saya melihat bahwa fanatisme, dukungan, ataupun pilihan terhadap seorang figur, merupakan hak, namun ketika harus dikomparasi dengan kebutuhan Riau, sebaiknya fanatisme ini perlu direduksi.

Saya ingat dengan momen pilihan Kepala Desa di Jawa, satu atau dua dekade yang lalu, dengan istilah 'jago' yang dipakai untuk menyebut figur kontestan pilihan Kepala Desa ini. Masing-masing kelompok pendukung sangat fanatik dengan jagonya. Tidak jarang juga terjadi benturan fisik antar kelompok.

Namun mereka lupa, figur yang memenangkan kontes, pilihan, atau apapun namanya, harusnya menjadi kemenangan untuk warga pada daerah pemilihan tersebut secara keseluruhan, bukan kemenangan satu kelompok kepentingan semata. Kemenangan seorang figur adalah cerminan harapan agar pembangunan di masa mendatang, lengkap dengan pemahaman publik terhadap sustainable development, pencapaian governance, juga transparansi keuangan publik.

Tiga indikator sederhana tersebut harus dipahami benar oleh kelompok-kelompok pendukung figur. Apabila figur-figur kita memahami indikator tersebut untuk pencapaian pembangunan daerah yang lebih baik, maka marilah kita menjadi pendukung yang fanatik!

Salam dari Jakarta.

Raden Mas R. Anindya, SIP, MPA
Ketua Presidium Jawa Manunggal Riau
Alumni Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.

 
INFO TERKAIT 
 Senin, 26 Maret 2018 10:03:43
Persoalan Klasik Daftar Pemilih
 Minggu, 17 Desember 2017 12:12:17
PERS Bebas Bukan "Liar" Tanpa Aturan
 Selasa, 10 Oktober 2017 08:10:15
Konstelasi Politik Jelang Pilgub Riau 2018
 Senin, 02 Oktober 2017 10:10:31
Nasib 300 Desa Pasca Perda RTRWP Riau di Ketok Palu
 Senin, 02 Oktober 2017 10:10:20
Nasib 300 Desa Pasca Perda RTRWP Riau di Ketok Palu
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca