Kabapenda Dukung Kebudayaan Rantau Larangan di Kampar
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Rabu, 01 November 2017 10:11:12
Kabapenda Dukung Kebudayaan Rantau Larangan di Kampar
KETERANGAN GAMBAR :
salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Kampar, Datuk Gindo Semajo, Azharisman Rozie saat menghadiri acara di Kampar

PEKANBARU, UTUSANRIAU.CO - Setiap daerah tentu mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Dengan begitu masing-masing daerah  akan melaksanakan kebudayaan itu dengan baik dan terarah.
       
Seperti halnya kebudayaan yang hingga kini masih dijalankan di tengah-tengah masyarakat di delapan desa, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar. Antara lain,  Desa Tanjung, Desa Tabing, Desa Kongkai, Desa Gunung Melelo, Desa Sibiruang, Desa Batas dan Desa Vila.
     
Sementara saat ini budaya itu masih dijalankan yakni rantau larangan, rantau larangan ini, dimana masyarakat setempat tidak diperbolehkan menangkap ikan pada sungai yang telah ditentukan. Larangan ini berlaku selama kurun waktu satu hingga dua tahun. 
    
Hal itu dikatakan salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Kampar, Datuk Gindo Semajo, Azharisman Rozie ketika di wawancara terkait acara yang berlangsung pada Ahad Lalu (29/10/17).

"Memang ada  suatu budaya yang masih melekat di masyarakat Kampar, terutama masyarakat Kecamatan Koto Kampar Hulu, yaitu membuat rantau larangan. Karena rantau larangan itu ada suatu tempat di Sungai Kampar, di daerah tertentu. Mereka tidak boleh mengambil ikan selama kurun waktu setahun atau dua tahun. Setelah iti barulah boleh   beramai-ramai masyarakat mengambil ikan disana," terang Datuk Ginda Semajo, Azharisman Rozie yang juga menjabat sebagai Kabapenda Kota Pekanbaru ini.
      
Dijelaskan Rozie, terkait acara yang dilaksanakan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Koto Kampar Hulu ini ia  mengaku sangat  mendukung penuh kegiatan kebudayaan yang dijalankan tersebut.
     
"Saya sangat mendukung sekali acara ini. Ketika para kepala desa lebih kurang delapan desa, yakni Desa Tanjung, Desa Tabing, Desa Kongkai, Desa Gunung Melelo, Desa Sibiruang, Desa Batas, Desa Vila, meminta saya datang untuk membuka acara, maka  saya hadir sebagai tokoh adat. Karena saya salah seorang datuk, yakni Datuk Gindo Semajo," ujar Rozie.
       
Dikatakan Datuk Gindo Semajo, alasan dirinya mendukung dan mengapresiasi kegiatan yang telah berlangsung, lantaran dalam kegiatan tersebut terkandung folosofi hidup, diantaranya taat akan hukum, serta cinta akan lingkungan.

"Karena alasannya yang pertama, acara itu saya melihat ada filosofinya,  ada nilai ketaatan. Artinya apa, semua masyarakat di Koto Kampar Hulu itu taat akan hukum atau aturan, disitu tidak boleh mengambil ikan, padahal tidak ada pengawasan. Yang kedua adalah cinta terhadap lingkungan, orang tidak menggunakan racun dalam menangkap ikan. Cinta kepada lingkungan dan habitat yang ada di sekitar kita. 

Yang ketiga silaturahmi. Jadi saya melihat cukup antusias masyarakat, dan ini budaya yang harus dikembangkan. Kalau setiap desa yang memiliki adat istiadat mempunyai  acara seperti itu, cukup banyak objek-bjek wisata yang bisa kita kembangkan di Provinsi Riau, terutama di Kabupaten Kampar," ujar mantan Kepala Satpol.PP dan BKD tersebut.**ur2

 
INFO TERKAIT 
 Rabu, 02 Januari 2019 08:01:10
Tuah Akustik Lestarikan Musik Melayu Riau Lewat Cover Lagu Ana Uhibbuka Fillah
 Senin, 17 Desember 2018 12:12:15
Presiden Ingatkan Pujakesuma Hormati Kearifan Lokal
 Sabtu, 15 Desember 2018 12:12:21
Pakai Tanjak dan Selempang Adat, Jokowi Sandang Gelar Datuk Seri Setia Amanah Negara
 Rabu, 05 Desember 2018 07:12:50
Novelis NH Dini Tutup Usia
 Selasa, 27 November 2018 02:11:34
Bupati HM Harris Buka Pekan Budaya Riau Kompleks Bersatu dalam Keberagaman Seni dan Budaya
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca