Sepanjang Tahun 2017,Dominan Perempuan Ajukan Perkara Di PA Bengkalis
Home | Otonomi | Pendidikan | Ekonomi | Kesehatan | Olahraga | Teknologi | Hukum | Lingkungan | Religion | Gaya Hidup | Politik | Kampus
>> Hot News
     
Kamis, 11 Januari 2018 11:01:43
Sepanjang Tahun 2017,Dominan Perempuan Ajukan Perkara Di PA Bengkalis
KETERANGAN GAMBAR :
Humas PA Bengkalis M Khadafi

BENGKALIS, UTUSANRIAU.CO - Jumlah perkara perceraian yang didaftarkan di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Bengkalis membeludak karena tangani kabupaten bengkalis dan siak. Faktor ekonomi menjadi penyebab sebagian besar perkara cerai itu.

Humas PA Kabupaten Bengkalis, M Khadafi  Basori  menjelaskan, jumlah perkara perceraian yang diajukan ke PA Bengkalis tahun 2017 mencapai 1080 perkara.  “Jumlah ini tambahan sisa perkara tahun 2016  181 perkara” katanya.

Secara umum, kata Khadafi, jumlah perkara perceraian di Kabupaten Bengkalis selama beberapa tahun terakhir tergolong tinggi. Tingginya jumlah perkara cerai itu bisa dilihat pada 2017 lalu. “Jumlah perkara perceraian yang diajukan ke PA Kabupaten Bengkalis di dominasi cerai gugat” ujarnya.

Cerai gugat, ujar dia, diajukan istri. Sedangkan cerai talak diajukan suami. Sepanjang tahun 2017, jumlah cerai gugat yang diajukan istri mencapai 531 perkara. Sedangkan cerai talak yang diajukan suami 276 perkara. Adapun faktor penyebab cerai, menurut Khadafi, bermacam-macam. “Tapi terbanyak karena faktor ekonomi,” ucapnya.

"Yang utama nafkah dari suami tidak mencukupi dan tanggungjawab kurang meninggalkan rumah , pada saat sidang saksi melihat ada perselisihan terus menerus dan masalah ekonomi yang utama" terang  khadafi

Dari rekapitulasi data PA Bengkalis sepanjang tahun 2017 perkara perceraian yang diajukan PNS mencapai 38 perkara yang sudah diputus 35 perkara,"Cerai gugat pihak istri yang banyak karena perselingkuhan dan ada juga faktor ekonomi " kata Khadafi juga hakim anggota PA Bengkalis.

Salah seorang warga di PA Bengkalis mengaku terpaksa mengajukan perceraian karena faktor ekonomi. “Suami saya kurang bertanggung jawab dalam memberi nafkah,” kata perempuan yang enggan disebutkan namanya itu. Ia pun terpaksa harus menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Namun, saat bekerja di luar negeri, suaminya justru selingkuh. Karena itu, sekalipun sudah memiliki tiga anak, perempuan tersebut tetap memutuskan menggugat cerai suaminya.(yul)

 
INFO TERKAIT 
 Rabu, 23 Januari 2019 11:01:09
Ratusan Masyarakat Desa Sontang Dan Desa Pauh Menolak Kehadiran PT. RAL
 Rabu, 23 Januari 2019 11:01:39
Bupati Wardan Harapkan Seluruh OPD Mendukung Keberhasilan Program DMIJ Plus Terintegrasi
 Rabu, 23 Januari 2019 11:01:03
Walikota Kukuhkan Sekda dan Sembilan Pejabat Eselon II Pekanbaru
 Rabu, 23 Januari 2019 11:01:12
Syamsuar Imbau Masyarakat Jangan Jual Tanah dan Lahan
 Rabu, 23 Januari 2019 11:01:03
PT TPP Laksanakan Empat Pilar Program CSR
 
Isi Komentar
   
Peringatan : Dilarang menulis komentar berbau SARA, fitnah, & menistakan. Penulis bertanggung jawab penuh atas komentarnya dalam forum ini, terimakasih
   
Nama*
Pesan*
 
   
  Komentar Pembaca