BENGKALIS, UTUSANRIAU.CO - Tim Peneliti dari sejumlah lembaga penelitian di Riau yang mengikuti Lomba Karya Ilmiah (LKI) se-Riau mulai melakukan presentasi dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Bengkalis selaku pelaksana kegiatan akan melakukan evaluasi sejauh mana orisinalitas karya tersebut dan implementasi kedepan bagi masyarakat.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Bengkalis, Dr Sopyan Hadi SPi MT, menyampaikan, presentasi sedang berjalan, dan sesuai dengan pengumuman yang dilakukan, ada beberapa kriteria karya ilmiah yang sampai di meja panitia dan perlu dievaluasi semua , terutama untuk pengembangan kedepan.
"Karya ilmiah yang masuk dibagi kedalam tujuh katagori yaitu Informatika dan Robotika, Teknik Sipil dan Lingkungan, Kesehatan Masyarakat, Pertanian dan Peternakan, Industri, Energi Terbarukan, serta Perikanan dan Kelauatan, "ujarnya, Senin (10/11/14)
Dr Sopyan Hadi menjelaskan, dari tujuh katagori tersebut, masing-masing ada 3 karya ilmiah yang lolos ke meja panitia sehingga total berjumlah 21 karya ilmiah dan mulai dipresentasikan selama dua hari mulai hari ini (Senin-red).
"Saya kira sepintas lalu semua proposal yang masuk ini cukup berkualitas sekaligus bukti bahwa sebenarnya banyak tim-tim peneliti di Riau yang sangat berpotensi tapi bakat mereka belum tersalurkan dan dengan perlombaan ini akan banyak muncul teknologi-teknologi yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Bukan hanya sekedar teori tapi juga pengembangannya, ”beber Sopyan Hadi.
Sopyan berharap, melalui kegiatan lomba karya ilmiah tersebut dapat memfasilitasi para peneliti dan akademisi untuk bersama-sama menyumbangkan ide, gagasan serta karyanya untuk mendukung pembangunan serta tersedianya karya-karya penelitian unggulan sebagai basis pengembangan yang lebih lanjut untuk mendukung program/kegiatan di Kabupaten Bengkalis.
Air Laut Jadi Air Tawar Salah satu presentasi yang menarik adalah pemaparan dari tim peneliti mahasiswa Universitas Riau dengan judul "Instalasi Pengolahan Air Laut Pulau Bengkalis menjadi Air Bersih dengan Kolom Penukar Ion".
Presentasi yang dipaparkan oleh Syahri Romadona ini dilatarbelakangi oleh sulitnya mendapatkan air bersih di pulau Bengkalis, sementara PDAM sebagai penyuplai air bersih memiliki keterbatasan air baku, terutama pada musim kemarau.
Disisi lain, sebagai daerah pulau, Bengkalis memiliki ketersediaan air laut yang melimpah serta tanah bertekstur liat. Air laut dan tanah liat (lempung) merupakan bahan baku yang kalau diolah dengan benar akan menghasilkan air bersih. Sistem pengolahan dimaksud adalah dengan kolom penukar ion yang “mesin” utamanya adalah lempung aktif.
Menurut Syahri Romadona, memang saat ini banyak cara untuk membuat air laut jadi air bersih. Misalnya dengan teknis reverse osmosis dan destilasi. Namun, kedua cara tersebut selain perawatannya cukup merepotkan biayanya juga mahal.
"Namun dengan kolom penukar ion, hal itu bisa dihindari karena peralatannya kompak dan efisien, serta pemeliharaannya mudah serta tidak ada endapan lumpur seperti halnya pada proses soda kapur, sehingga tidak ada persoalan pembuangan lumpur,"ujarnya didampingi dua rekan satu tim yaitu Hafizh dan Utami Khairunnisa. (bp)
###