UTUSAN RIAU.CO , PEKANBARU - Menjelang pelaksanaan diskusi interaktif Kelompok Cipayung Plus Provinsi Riau bertema "Di Atas Kertas dan Realitas: Represif Polri, Apakah Reformasi Polri Cacat?", muncul dugaan insiden penyerangan terhadap salah seorang aktivis yang terlibat dalam kepanitiaan kegiatan di Kota Pekanbaru. Peristiwa tersebut memicu reaksi dari berbagai organisasi kemahasiswaan yang menilai dugaan kekerasan itu sebagai ancaman terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat.
PW Hima Persis Riau, Ahad 5 Juli 2026, melalui Ketua Umumnya, Fikri Abdurrahman, mengecam keras segala bentuk kekerasan, intimidasi, maupun teror terhadap aktivis mahasiswa.
Menurutnya, apabila dugaan penyerangan tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan forum diskusi, maka tindakan itu bukan hanya menyerang individu, tetapi juga mencederai nilai-nilai demokrasi dan kebebasan akademik.
Fikri menegaskan bahwa ruang diskusi merupakan wadah bertemunya gagasan yang seharusnya dijaga, bukan dibungkam dengan kekerasan.