UTUSANRIAU. CO, BAGANSIAPIAPI – Kasus kekerasan seksual di Kabupaten Rokan Hilir tercatat sebagai kasus yang paling banyak terjadi setiap tahunnya. Data dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) menunjukkan tren yang memprihatinkan.
Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 66 kasus yang ditangani oleh DP2KBP3A Rohil. Angka tersebut meningkat menjadi 77 kasus pada tahun 2024, dan pada tahun 2025 kembali tercatat 76 kasus. Dari kasus yang ada tersebut, kasus kekerasan Seksual jumlahnya masih cukup tinggi dan menjadi perhatian serius.
Kepala DP2KBP3A Rohil, Cici Sulastri SKM, MSI, menyampaikan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak mendominasi dibandingkan dengan kasus lain seperti bullying, penyebaran video porno, KDRT, pengancaman, penganiayaan, narkoba, pencurian, hingga melarikan anak di bawah umur.
Menurut Cici, fenomena ini bukan hanya terjadi di Rokan Hilir, melainkan juga di berbagai daerah lain di Indonesia. “Kasus kekerasan seksual terhadap anak ini memang umum terjadi, bukan hanya di sini saja,” Ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/1).
Sebagai langkah penanganan, DP2KBP3A Rohil menerima pengaduan masyarakat dan menindaklanjutinya dengan bekerja sama bersama pihak kepolisian, tenaga medis, serta klinik untuk melakukan visum terhadap korban.
Selain itu, pihaknya juga menyiapkan tenaga ahli psikolog dari Universitas Islam Riau (UIR) untuk memberikan pendampingan psikologis kepada korban agar dapat pulih dari trauma.
Namun, Cici mengungkapkan bahwa banyak kasus berakhir dengan perdamaian. Hal ini terjadi karena anak-anak korban belum memahami secara penuh perbedaan antara hal yang baik dan buruk. Ironisnya, pelaku sering kali berasal dari keluarga terdekat sehingga dianggap sebagai aib oleh pihak keluarga.
Untuk menekan angka kasus yang terus berulang, DP2KBP3A Rohil gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan perlindungan terhadap anak-anak.
Selain kekerasan seksual, kasus bullying juga cukup banyak ditemukan. Oleh karena itu, Cici meminta peran aktif tokoh agama, tokoh adat, serta tenaga pendidik untuk bersama lebih mengawasi anak-anak.
"Kasus kekerasan seksual bahkan ada yang dilakukan oleh tenaga pendidik. Maka dari itu, pengawasan harus benar-benar diperketat agar anak-anak terlindungi," tegasnya. (zal)
