Di Tuding Tak Fair, Penentuan Pemenang Lomba Dongeng BPUAD Tuai Masalah

Di Tuding Tak Fair, Penentuan Pemenang Lomba Dongeng BPUAD Tuai Masalah

BENGKALIS, UTUSANRIAU.CO - Lomba mendongeng tingkat SD yang dilaksanakan oleh Badan Perpustakaan Umum Dokumentasi dan Arsip Daerah (BPUAD) pekan lalu menuai masalah. Penetapan juara untuk pemenang lomba tersebut dinilai tidak fair sehingga merugikan para peserta lomba.

Seperti diungkapkan oleh salah seorang wali murid, Zulkarnaen yang anaknya Shevita Zaila, ikut dalam lomba tersebut, katakan, bahwa beberapa pemenang lomba sebenarnya lebih banyak membuat “kesalahan” bila dibandingkan dengan anaknya. 

Kesalahan dimaksud sesuai dengan apa yang disampaikan oleh tim juri Agus DS usai perlombaan seperti mengungkapkan kata-kata kasar/tidak tepat, ekspresi kurang, monoton seperti pidato dan asyik cerita sendiri.

“Justru yang menang yang banyak melanggar. Padahal, dalam technical meeting hanya disebutkan, yang “dimaafkan” alias tidak dinilai adalah kostum, alat peraga, dan waktu, karena ada pelatih/guru yang bertanya waktu itu, ” ungkap Zulkarnaen, ‎Selasa (26/05/15).

Terkait dengan anaknya yang tidak mendapat juara, bahkan untuk juara harapan, Ia sudah menanyakan langsung ke Agus DS. Menurut Agus, anaknya asyik cerita sendiri dengan kata lain terbebani dengan materi. Bagaimana dengan ungkapan kasar, ekspresi kurang? Menurut Agus itu bukan bagian yang dinilai.

“Padahal saat technical meeting, bahkan setelah selesai lomba, Kak Agus mengungkapkan bagaimana seorang pendongeng itu harus mampu membawakan berbagai karakter. Membeda-bedakan suara sesuai dengan karakter yang dimainkan. Itu yang anak saya lakukan, dan semua penonton tau itu.  Eh  juara harapan pun tidak dapat, "paparnya lagi.

Karena merasa penasaran, dirinya terus menanyakan terkait penentuan juara harapan yang penampilannya biasa-biasa saja. “Jawaban Kak Agus melalui sms sangat menyedihkan, bahwa dirinya hanya diminta untuk menetapkan juara I, II dan III. Perihal juara harapan hanya spontanitas,” ujar Zulkarnaen sambil menunjukkan isi sms tersebut.

Terkait persoalan itu, Zulkarnaen mengaku sudah berusaha meminta penjelasan dari BPUAD, baik Kepala BPUAD maupun panitia pelaksana. Dirinya hanya meminta transparansi tentang hasil penilaian dari masing-masing juri, namun menurut panitia, mereka tidak memegang hasil penilaian tersebut.

“Menurut salah seorang panitia Ifan, mereka hanya disodori surat penetapan pemenang lomba dari juara I hingga harapan III. Soal hasil penilaiannya mereka tidak punya. Ini tentu sangat menyedihkan, untuk sebuah perlombaan yang pemenangnya mewakili Kabupaten Bengkalis ke tingkat propinsi, dan diseleksi oleh juri berkelas internasional (Agus DS,red), tapi tidak ada pertinggal hasil penilaian.

Zulkarnaen sendiri mengaku tidak akan meminta pembatalan pemenang. Namun, dengan kejadian ini, hendaknya juri maupun panitia penyelenggara bisa memetik pelajaran untuk lebih berhati-hati. “Selain persoalan yang saya sebutkan tadi, saya sarankan juga untuk juri jangan hanya dua orang, paling tidak 3 orang agar fair, "jelasnya lagi.

 Terpisah, Kepala BPUAD  HM Khairuddin R Nur saat dihubungi mengaku selama kegiatan berlangsung dirinya tidak ada di tempat. Namun, sebagai pimpinan dirinya sudah mewanti-wanti panitia agar benar-benar fair dalam menentukan pemenang. “Coba tanyakan ke panitia, "ujarnya.

Sementara itu, panitia bidang lomba dongeng, Ifan, saat dihubungi mengakui kalau untuk penetapan pemenang lomba, pihanya hanya mendapatkan surat penetapan pemenang. “Untuk kriteria hasil penilaian dari masing-masing peserta tidak ada sama kita, "ujarnya lagi. (bp)

Berita Lainnya

Index