PASIRPENGARAIAN, UTUSANRIAU.CO – Jika kita jujur membaca, memahami, dan meneliti perjalanan sejarah bangsa Indonesia, baik sesudah kemerdekaan maupun dan terlebih sebelum kemerdekaan, maka kemerdekaan bangsa Indonesia,
tidak bisa dilepas pisahkan dari sejarah panjang Pondok Pesantren (Ponpes).
Sejarah juga mencatat, bahwa ternyata Ponpes, adalah penyumbang terbesar, untuk kaderisasi umat Islam, sebab para ulama, pejuang, dan tokoh agama, serta tokoh masyarakat, dan bahkan tokoh adat, justru lahir dari rahim Ponpes dan dibesarkan juga dalam lingkaran dan atau
lingkungan Ponpes.
Makanya dapat dipastikan, bahwa pembinaan dan pemberdayaan umat Islam dimulai dari Ponpes, dibesarkan di Ponpes, dan digerakkan dari Ponpes. Sehingga melahirkan satu kekuatan yang dapat menggoyahkan dan menggetarkan jalannya sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Demikian disampaikan Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, didampingi Kasi Bimas Islam H Rusli Batubara MSy, ketika menyampaikan sambutan pengarahan pada Pertemuan Silaturrahim Orang Tua Wali Santri dan peresmian Masjid As-Sa’ied dan Masjid An-Nur Ponpes Nizhamuddin Kota Tengah, Selasa (27/9).
Ahmad Supardi Hasibuan yang mantan Kepala Humas dan Perencanaan Kanwil Kemenag Prov Riau ini, lebih lanjut menyatakan bahwa sistem pendidikan di Ponpes adalah sistem pendidikan modern dan bernuansa masa depan. Hal ini dapat dibuktikan dengan diadopsinya sistem pendidikan Ponpes ke dalam sistem sekolah-sekolah bertaraf inetrnasional.
Beberapa hal yang diadopsi sistem sekolah internasional dari sistem Ponpes, angtara lain adalah : Pertama, sistem boarding school ataupun asrama. Dari dulu dan bahkan sebelum Indonesia merdeka, ketika itu sistem pendidikan kita belum ada, di Ponpes telah diterapkan apa yang
disebut dengan boarding school itu.
Kedua, penggunaan bahasa internasional di lembaga-lembaga pendidikan yang bertaraf inetrnasional itu, seperti Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Arab, dan lain sebagainya. Sistem penggunaan bahasa internasional ini, juga diadopsi dari Ponpes, sebab penggunaan bahasa
internasional seperti Bahasa Arab dan Inggris, telah berurat berakar diterapkan di Ponpes.
Ketiga, sistem pendidikan internasional, memiliki ciri dan karakter khusus, sehingga setiap lulusan pendidikannya berbeda dalam hal karakter dan keterampilan. Hal ini juga telah lama berlaku di Ponpes, makanya kita melihat masing-masing Ponpes berbeda-beda dalam penerapan
mata pelajaran.
Ahmad Supardi yang alumni Pondok Pesantren Musthafawiyah Purbabaru Kab Mandailing Natal Prov Sumatera Utara ini, lebih lanjut menyatakan bahwa sistem pendidikan Ponpes telah baku dalam umur yang relatif panjang, sehingga tidak kita temukan gonta ganti kurikulum, silabus, dan perubahan buku standar yang digunakan. *Yus*
###
