Kelembagaan Arboretum Gambut Perlu Memperhatikan Pengelolaan yang Berkelanjutan

Kelembagaan Arboretum Gambut Perlu   Memperhatikan Pengelolaan yang Berkelanjutan
Kelembagaan Arboretum Gambut Perlu Memperhatikan Pengelolaan yang Berkelanjutan

UTUSANRIAU.CO, PEKANBARU - Selama ini pengelolaan lahan gambut sering mengalami kegagalan, baik dilakukan pemerintah maupun swasta. Salah satu penyebab hal itu terjadi karena program yang dilakukan hanya fokus pada pengembalian fungsi ekologi lahan gambut. Sementara aspek pemberdayaan masyarakat seringkali diabaikan .


“Padahal dengan melibatkan masyarakat akan diketahui kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut sehingga tujuan pengelolaan gambut akan mudah diwujudkan,” ungkap Dr. Zulkarnaini, M.Si yang mengadakan kegiatan pendampingan peningkatan kapasitas kelembagaan Arboretum Gambut di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, (21/05).

Dosen FISIP Universitas Riau ini mengadakan kegiatan bersama beberapa rekannya tersebut bertujuan memperkenalkan fungsi lahan gambut sebagai penyangga utama ekosistem berbasiskan pemberdayaan masyarakat. Diantara program pelestarian lingkungan dalam Program Kampung Gambut Berdikari yang menjadi pusat perhatian adalah pengembangan hutan gambut menjadi Arboretum Gambut. “Program ini merupakan pertama di Sumatera dan menjadikannya sebagai sarana ekoeduwisata yang dikelola masyarakat sendiri dengan dibina oleh CSR BUMN,” ungkapnya lagi.  

Disebutkan Zulkarnaini, pengelolaan Arboretum Gambut sebagai ekoeduwisata membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Hal ini dikarenakan partisipasi pemangku kepentingan atau stakeholder erat kaitannya dengan kapasitas yang dimiliki stakeholder sebagai salah satu modal dalam pengelolaannya. Kapasitas ini khususnya adalah kapasitas pengembangan jejaring pengelola yang mutlak dibutuhkan dalam pengelolaan eduwisata yang bersifat multisektoral.

“Kapasitas pengelola saat ini baru memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi sumber daya dan menjalankan program pengelolaan ekoeduwisata,” katanya. Karena itu, untuk menuju jejaring yang mapan dan mampu menjadi sumber daya bagi program masih memiliki kelemahan, yaitu belum adanya prosedur formal untuk menjalankan program serta rasa kepemilikan bersama dari stakeholder yang masih lemah.***rls
 

Berita Lainnya

Index