UTUSANRIAU. CO, UJUNG BATU - Rumah dua warga di Koplek Diahardeka Kelurahan Ujung Batu Kecamatan Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu Thomas dan Oki dikhawatirkan terancam rubuh akibat tebing di sepanjang Sungai ngaso setiap tahun mengalami Abrasi akibat hantaman arus sungai selalu banjir.
Beberapa kali masyarakat mengajukan meminta agar pemerintah daerah mulai dari Camat khususnya Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu untuk segera membangun turap penahan tebing namun sampai saat ini belum direspon.
Beberapa warga yang ditemui, beberapa hari lalu berharap Pemkab Rohul dibawah pemerintahan Anton-Poti bisa merealisasikan pembangunan turap apalagi masyarakat Ujung Batu ingin sekali merasakan program Bupati dan Wakil Bupati tersebut.
Dikatakan, pada bulan Februari 2026 lalu, bencana banjir yang menerjang Sungai Ngaso meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Tragedi itu bahkan merenggut nyawa seorang anak yang hanyut dan ditemukan tak bernyawa di bawah jembatan Sungai Ngaso. Namun, duka belum berhenti di situ.
Abrasi tebing Sungai Ngaso semakin hari semakin runtuh kini mengancam keselamatan warga. Rumah Thomas hampir terseret arus, sementara rumah milik Oki hanya tinggal menunggu waktu untuk mengalami nasib serupa.
Ancaman nyata ini sudah lama dilaporkan warga Komplek Yahardeka, bahkan langsung disampaikan melalui WhatsApp kepada Wakil Bupati Rokan Hulu, Saparuddin Poti.
Respons awal memang sempat terlihat. Camat Ujung Batu, Sigit Pranjoro, bersama pihak kelurahan, Babinsa, serta instansi terkait termasuk PUPR Kabupaten Rokan Hulu turun langsung ke lokasi. Bantuan pun diberikan, namun hanya bersifat sementara—sekitar Rp5.000.000 untuk pembelian material kayu penyangga darurat, serta sekitar 300 karung goni dari PUPR untuk diisi pasir sebagai penahan sementara.
Namun pertanyaannya, sampai kapan warga harus bertahan dengan solusi darurat ini
Dimana Wakil Bupati Rokan Hulu sempat menyampaikan bahwa pada akhir Februari 2026 akan direalisasikan bantuan pembangunan turap atau penahan tebing.
Janji itu sempat memberi harapan. Sayangnya, waktu terus berjalan—hari berganti-hari minggu, minggu berganti bulan,"hingga kini, realisasi yang dinanti tak kunjung datang bahkan masyarakat kini hanya bisa bertanya dengan nada getir,"Katanya.
Ataukah harus menunggu rumah itu benar-benar rubuh ke sungai bahkan menelan korban baru pemerintah bergerak? Jika tidak segera ada tindakan nyata, maka yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan, tetapi juga keselamatan dan nyawa manusia.
Thomas dan Oki meminta kepada Bupati Rohul agar membuat tembok penahan tebing untuk keselamatan rumah kami,sebelum rata dengan sungai,"Kami sangat berharap kepada Bupati dan wabub supaya mengabulkan permintaan kami,'Harapnya. **(Yus)
