ZUM suatu kali meminta foto saya. Ketika itu dia masih menjadi redaktur halaman 1 dan halaman belakang Riau Pos yang penuh warna. Rupanya dia ingin membuat tulisan pendek tentang kreativitas saya yang saban hari sepanjang bulan puasa menulis rubrik _Telatah Ramadan. Tampilan tulisan + foto warna cukup menarik pada halaman belakang di antara tulisan tentang artis dan tulisan campursari lainnya. Hal serupa pernah dilakukan alhmarhum Ade Adran Syahlan ketika saya menggabungkan dua anugerah, Adiknegeri dan Adinegoro, maksudnya setelah memperoleh anugerah yang "memecah telur" bagi wartawan di luar Jawa saya pun melepaskan masa lajang.
Alhamdulillah, kemungkinan saja karena tulisan ini, jelang Idul Adha, Pak Nasir Nasution, penanggung jawab seni budaya TVRI Stasiun Rumbai mencari saya. Meminta cerita Telatah Ramadan dibuat juga jadi skrip film pendek untuk ditayangkan pada Idul Adha. Maka kemudian tampillah Wak Atan yang diperankan Said Agil, seorang guru dan Biltar Atlas seorang penyiar senior RRI Pekanbaru. Berbaju Melayu lusuh, songkok kepuh, dengan berselempang kain plekat) menyeret seekor kambing menyeberangi jembatan Leigton untuk dijadikan kurban. Pemain Telatah Ramadan Wak Atan ini sekarang di antaranya ada yang jadi senator dan jadi presiden. Abdul Hamid sekarang berkantor di Senayan. Kunni Masrohanti jadi Presiden Penyair Wanita Indonesia. Terima kasih Datuk Rida K Liamsi telah memberi laluan kepada kami semua.
Selamat jalan, Zum. Usiamu mungkin memang pendek - baru setengah baya. Tetapi langkahmu sangat panjang dalam sekejab. Banyak memberikan jalan lapang lagi terang pula bagi orang-orang. Semoga engkau mendapat tempat yang terbaik di sisi _Allah Subhanahu wa ta'ala. Juga untuk almarhum Ade Adran Syahlan, Nasir Nasution, Mai Arianta, Amzar dan lain-lainnya. _Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.***
