Didakwa Serobot Lahan, Asia (53) Yang Buta huruf Dianggap Berbelit-belit Oleh JPU

Didakwa Serobot Lahan, Asia (53) Yang Buta huruf Dianggap Berbelit-belit Oleh JPU
Didakwa Serobot Lahan, Asia (53) Yang Buta huruf Dianggap Berbelit-belit Oleh JPU

UTUSANRIAU.CO, BENGKALIS - Sidang lanjutan dugaan penyerobotan lahan dan pemalsuan dokumen surat tanah, yang dituduhkan kepada terdakwa Asia alias Asin (53) warga Rupat dan tidak bisa baca tulis, agenda pembacaan pendapat penuntut umum Kejari Bengkalis, Selasa (25/10/22).

Pihak JPU (jaksa penuntut umum) Kejari Bengkalis, James Naibaho SH membacakan pendapat kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis secara video zoom atau virtual. James mengatakan terdakwa Asia alias Asin selama persidangan yang memberatkannya berbelit-belit dan yang meringankan bersikap sopan.

" Menuntut secara sah tindakan pidana menguasai lahan menguntungkan diri sendiri atau orang lain yang belum bersertifikat dan dituntut 10 bulan penjara dan membayar perkara Rp. 5000," kata penuntut umum.

Majelis hakim dipimpin oleh Ketua PN Bayu Soho Raharjo, SH.,MH.  memberikan kesempatan Asia dan pengacara tanggapan secara tertulis dilaksanakan minggu depan.

Setelah persidangan pihak penasehat hukum terdakwa (Asin), Henri Zanita, SH.,MH, ditemui wartawan mengatakan ," Pada saat pembuktian dipersidangan sebelumnya sangat jauh dari tuduhan, apa yang dituntut jpu sangat jauh, tidak ada salah satupun saksi menyatakan peralihan hak, penggelapan obyek tidak bergerak, tidak pernah melakukan penukaran kredit verbal sesuai pasal 385 ayat 1 KUHP yang menjadi dasar tuntutan jpu." ujar Penasehat hukum Asia.

Lanjut Zanita dalam dakwaan JPU, Asia tidak melakukan apa ya di dakwaan."Pekan depan kami melakukan bantahan terhadap tuntutan JPU." ujarnya.

Sebelumnya dalam agenda pemeriksaan terdakwa (Asin), diketahui bahwa terdakwa seorang buta huruf ini. Ia mengaku menanam bibit sawit sebanyak 60 batang di lahan milik orang tuanya, dan ketika orang tuanya masih hidup telah mengelola lahan dengan berbagai tanaman bantuan dari pemerintah.

Soal hasil buah sawit, selama orang tua masih hidup lahan dikelola oleh keluarganya. Dan setelah kedua orang tuanya meninggal lahan tersebut dikelola oleh adik iparnya dengan mengupah kepada buruh, dan hasilnya untuk keperluan biaya ibadah.

Kemudian, dari fakta persidangan juga terkuak, pada saat Polsek Rupat memeriksa, terdakwa menunjukkan dua surat kepemilikan tanah ke penyidik berupa foto copy (bukan yang asli). Namun sesuai pengakuan terdakwa, surat tidak disita, dan penyidik juga tidak meminta surat yang asli.***(yulistar)


#Bengkalis

Index

Berita Lainnya

Index