387 Peserta dari 10 Provinsi Bersatu, PERMAMPU-Ashoka Dorong Perempuan Lansia Tetap Berdaya

387 Peserta dari 10 Provinsi Bersatu, PERMAMPU-Ashoka Dorong Perempuan Lansia Tetap Berdaya
387 Peserta dari 10 Provinsi Bersatu, PERMAMPU-Ashoka Dorong Perempuan Lansia Tetap Berdaya

UTUSAN RIAU.CO,  PEKANBARU —  Konsorsium Perempuan Sumatra Mampu (PERMAMPU) berkolaborasi dengan Ashoka menyelenggarakan perayaan Hari Lansia Internasional 2026 dengan mengangkat suara, pengalaman dan kebutuhan strategis perempuan lansia, khususnya mereka yang tinggal di wilayah perdesaan dan kelompok marginal. Kegiatan yang digelar secara hibrida pada Kamis (1/10/2026) tersebut berpusat di Kota Palembang dan terhubung dengan 172 titik Zoom di 10 provinsi cakupan PERMAMPU serta jejaring di berbagai wilayah Indonesia.

Koordinator Konsorsium PERMAMPU–Sekretariat Medan, Dina Lumbantobing, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang lintas generasi untuk mempertemukan perempuan lansia dan pra-lansia, perempuan muda serta kader perempuan dampingan anggota dan mitra PERMAMPU. Tercatat sebanyak 387 peserta mengikuti kegiatan, terdiri atas 366 perempuan dan 21 laki-laki, yang berasal dari 10 provinsi di Sumatera, mulai Aceh hingga Lampung. Kegiatan juga melibatkan jejaring Ashoka, mitra INKLUSI, organisasi perangkat daerah, organisasi perempuan dan jaringan masyarakat sipil.

Sejumlah narasumber turut memberikan perspektif dalam kegiatan tersebut, antara lain Niken Lestari, Konsultan FPAR (Feminist Participatory Action Research) PERMAMPU, yang memaparkan hasil asesmen kebutuhan strategis perempuan lansia di Pulau Sumatera. Hadir pula Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara Nani Zulminarni, Tirta Sutedjo dari Bappenas, testimoni perempuan lansia dari berbagai provinsi serta berbagi praktik baik dari mitra INKLUSI, yakni Tri Hastuti dari ‘Aisyiyah, Ciciek Farha dari Ledokombo dan Khotimun Susanti, Direktur Asosiasi LBH APIK Jakarta.

Team Leader INKLUSI, Kate Shanahan, dalam sambutannya menekankan pentingnya menyediakan ruang yang memungkinkan suara perempuan lansia didengar dan kebutuhan strategis mereka dipahami. Menurutnya, Hari Lansia Internasional tidak semata-mata menjadi momentum seremonial, tetapi kesempatan untuk melihat kembali posisi perempuan lansia dalam kehidupan bermasyarakat. Perempuan lansia memiliki pengetahuan, kemampuan mengambil keputusan serta kontribusi sosial dan ekonomi yang perlu diakui.

Dina Lumbantobing menegaskan bahwa perempuan lansia selama ini telah menjadi bagian penting dalam pengorganisasian perempuan akar rumput anggota PERMAMPU melalui Credit Union (CU). “Sekitar 20 persen anggota CU adalah perempuan lansia sesuai dengan definisi dalam UU, tanpa menafikan anggota lain yang memaknai dirinya sudah mulai menua sejak mengalami menopause di usia 50-an bahkan 40-an.

Dukungan INKLUSI dalam penguatan perspektif GEDSI membuka dan menguatkan komitmen PERMAMPU untuk menyediakan ruang dalam mendengarkan, bersuara dan memahami kebutuhan strategis perempuan lansia, khususnya di perdesaan dan kelompok marginal,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, PERMAMPU juga memaparkan hasil asesmen kebutuhan strategis perempuan lansia dan pra-lansia melalui pendekatan FPAR. Hasil asesmen menemukan sejumlah persoalan penting, mulai dari tingginya beban kerja perawatan yang belum sepenuhnya diakui, hingga tetap aktifnya perempuan lansia dalam kegiatan ekonomi dan sosial seperti bertani, berdagang serta menjadi kader CU.

Asesmen juga menunjukkan bahwa keterbatasan transportasi dan digitalisasi layanan dapat memunculkan bentuk eksklusi baru apabila tidak disertai pendekatan yang inklusif.

Dari sisi kesehatan, perempuan lansia menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan pengalaman sepanjang siklus hidup, termasuk kondisi pascamenopause, penyakit kronis dan gangguan buang air kecil.

Pengalaman serta beban reproduksi pada masa sebelumnya juga dapat beririsan dengan kondisi kesehatan ketika memasuki usia lanjut. Selain itu, masih terdapat stigma dan anggapan tabu mengenai seksualitas perempuan lansia. Mereka juga membutuhkan ruang yang aman untuk bersosialisasi, belajar, berekspresi, memperoleh hiburan dan rekreasi agar tidak semakin rentan mengalami isolasi sosial dan psikososial.

Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, memperkuat temuan tersebut melalui gagasan “New Longevity” atau “Menua dengan Sukacita”. Gagasan ini mendorong perubahan cara pandang terhadap proses menua, termasuk dengan melihat perempuan lansia sebagai aset kehidupan dan kontributor sepanjang hayat. Lima hal yang ditekankan meliputi kesehatan dan wellbeing, pengakuan terhadap orang berusia 50 tahun ke atas sebagai kontributor, kesempatan untuk terus belajar dan bekerja sepanjang hayat, kolaborasi lintas generasi, serta perubahan sistem, kebijakan dan hukum yang mendukung keberagaman usia.

Sementara itu, Tirta Sutedjo dari Bappenas menyampaikan perspektif mengenai pembangunan dan isu penuaan penduduk. Ia menyebut pemerintah telah memasukkan isu kelanjutusiaan dalam RPJMN 2025–2029 melalui Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN. Dalam RKP 2027, isu kelanjutusiaan juga menjadi salah satu isu strategis pembangunan manusia yang inklusif, sejalan dengan pengarusutamaan inklusi sosial dalam kebijakan lintas sektor. Menurutnya, temuan PERMAMPU mengenai pengalaman dan kebutuhan strategis perempuan lansia di perdesaan diharapkan dapat memperkuat upaya pemerintah dalam merancang kebijakan dan program kelanjutusiaan yang inklusif serta sesuai kebutuhan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan pesan bahwa membangun ekosistem ramah perempuan lansia tidak cukup hanya melalui penyediaan layanan, tetapi membutuhkan perubahan cara pandang dan sistem yang mengakui perempuan lansia sebagai warga yang aktif, memiliki hak, suara, pengetahuan dan kemampuan untuk terus berkontribusi. Mari Menua dengan Sukacita.****rls

Berita Lainnya

Index