UTUSAN RIAU.CO, PELALAWAN – Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berfokus pada pemberdayaan petani kelapa sawit swadaya. Program bertajuk "Sosialisasi Pemberdayaan Kemitraan Petani Swadaya melalui Penerapan Inovasi Teknologi Polen Kelapa Sawit untuk Meningkatkan Fruit Set dan Produktivitas Tandan Buah Segar (TBS)" ini mendapat pendanaan dari Kemdiktisaintek Tahun 2026 dan melibatkan 30 petani swadaya sebagai peserta utama.
Wakil Rektor I sekaligus dosen ITP2I, Salmiyati, M.Pd., Ph.D., pada Kamis (23/7/2026), menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (23/6/2026) tersebut merupakan implementasi hasil riset dosen ITP2I yang bertujuan menghadirkan solusi nyata bagi peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat melalui penerapan teknologi penyerbukan buatan (assisted pollination).
Program pengabdian dipimpin langsung oleh Salmiyati selaku Ketua Tim Pengabdian bersama anggota tim dosen Yudia Azmi, S.P., M.Si. dan Arief Fazlul Rahman, S.TP., M.Si. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi Agroteknologi, yakni Nur Aeni Afna, Nela Yolanda, dan Dayyattul Akmal, yang berperan sebagai fasilitator lapangan, pendamping diskusi, dokumentasi kegiatan, hingga membantu evaluasi pelaksanaan program.
Menurut Salmiyati, produktivitas kebun kelapa sawit milik petani swadaya hingga kini masih berada di bawah potensi optimal.
Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya tingkat keberhasilan penyerbukan bunga betina yang berdampak langsung terhadap rendahnya nilai fruit set dan produksi tandan buah segar. Karena itu, teknologi polen hasil penelitian dosen ITP2I diharapkan menjadi solusi praktis yang mudah diterapkan oleh para petani.
Dalam sosialisasi tersebut, tim pengabdian memperkenalkan berbagai inovasi teknologi, mulai dari teknik pengambilan polen berkualitas, penyaringan menggunakan ayakan 14 mesh, penyimpanan polen pada suhu -23 derajat Celsius menggunakan botol kaca untuk menjaga viabilitas, hingga teknik aplikasi polen pada bunga betina reseptif. Teknologi tersebut telah terbukti mampu mempertahankan kualitas polen lebih lama sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal saat masa penyerbukan.
Peserta juga mendapatkan materi mengenai kondisi aktual produktivitas kebun rakyat, faktor-faktor penyebab rendahnya pembentukan buah, pentingnya keberadaan serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus, serta penerapan teknologi polen sebagai alternatif meningkatkan efisiensi penyerbukan.
Penyampaian materi dilakukan melalui presentasi, diskusi interaktif, sesi tanya jawab, dan pemaparan hasil penelitian yang komunikatif.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Para petani aktif menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan, seperti rendahnya jumlah buah pada tandan, pengaruh cuaca terhadap pembungaan, keterbatasan pengetahuan mengenai fase reseptif bunga betina, hingga sulitnya memperoleh teknologi yang sesuai dengan kondisi kebun rakyat. Tim pengabdian memberikan penjelasan teknis beserta contoh penerapan yang sederhana sehingga mudah diaplikasikan secara mandiri.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti demonstrasi langsung mengenai tahapan penerapan teknologi polen, mulai dari identifikasi bunga betina reseptif, teknik aplikasi polen yang benar, hingga cara menjaga kualitas polen selama penyimpanan. Demonstrasi ini diharapkan mampu meminimalkan kesalahan penerapan teknologi di lapangan sekaligus meningkatkan keberhasilan penyerbukan.
Tim pengabdian turut menekankan pentingnya penerapan Best Management Practices (BMP) dalam budidaya kelapa sawit, seperti pengelolaan kebun yang ramah lingkungan, pengurangan penggunaan pestisida non-selektif yang dapat mengganggu populasi serangga penyerbuk alami, serta pencatatan kegiatan budidaya sebagai dasar evaluasi peningkatan produktivitas. Para petani juga diajak menyusun rencana penerapan teknologi di kebun masing-masing melalui pendampingan intensif bersama tim dosen dan mahasiswa.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, ITP2I kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi berbasis riset untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Sinergi antara dosen, mahasiswa, dan petani diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan produktivitas tandan buah segar, memperkuat ketahanan ekonomi petani swadaya, serta mewujudkan pembangunan perkebunan kelapa sawit Indonesia yang lebih produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing.**** rls /Edward p