UTUSANRIAU.CO, PELALAWAN – Sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak harus berakhir menjadi sampah. Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) memperkenalkan pemanfaatan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu alternatif pengelolaan sisa makanan organik menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik. Edukasi tersebut dilaksanakan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SDN 012 Terusan, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan bertajuk “Pengolahan Sisa Makanan MBG Menjadi Pupuk Organik dengan Maggot di SDN 012 Terusan Pangkalan Kerinci” ini menjadi bagian dari upaya ITP2I dalam memperkenalkan teknologi sederhana dan aplikatif untuk mengelola limbah organik di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan tersebut, warga sekolah diajak melihat sisa makanan bukan semata-mata sebagai sampah, tetapi sebagai bahan organik yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
Tim PKM ITP2I menjelaskan bahwa maggot BSF memiliki kemampuan memanfaatkan bahan organik sebagai sumber pakan selama proses pertumbuhannya. Pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengurangi volume sisa makanan yang dibuang sekaligus mendorong pemanfaatan kembali bahan organik secara lebih produktif dan ramah lingkungan.
Dalam edukasi tersebut, peserta juga diperkenalkan pada pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Sisa makanan yang sesuai perlu dipisahkan dari sampah lainnya sebelum masuk ke tahapan pengolahan menggunakan maggot. Pemilahan menjadi langkah penting agar bahan organik dapat dikelola secara efektif dan proses pemanfaatannya oleh maggot dapat berlangsung dengan baik.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan tahapan pengelolaan menggunakan maggot, mulai dari menyiapkan bahan organik, mengenalkan bahan tersebut sebagai sumber pakan maggot, hingga memahami hasil dari proses penguraian. Hasil pengolahan bahan organik tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari bahan pupuk organik, sehingga memiliki nilai guna bagi lingkungan.
Kegiatan PKM berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, demonstrasi dan diskusi.
Para peserta mendapat kesempatan untuk melihat serta mengenal maggot secara langsung, sekaligus berdiskusi mengenai persoalan sisa makanan yang dihasilkan di lingkungan sekolah. Metode praktik tersebut diharapkan membuat konsep pengelolaan sampah organik lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini dilaksanakan tim PKM ITP2I yang terdiri dari Bajora Justisia, S.P., M.Si., Iffadhiya Fathin Adiba, S.TP., M.Sc., Wimpy Prendika, S.Si., M.Si., Áyu Diah Putu Laksmi Putri, S.P., M.Si., Rannando, S.P., M.Si., dan Salmiyati, M.Pd., Ph.D. Kehadiran tim menjadi bagian dari implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi perguruan tinggi melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih dari sekadar pengolahan limbah, edukasi maggot tersebut juga menjadi sarana pembelajaran lingkungan bagi warga sekolah. Anak-anak diperkenalkan pada kebiasaan sederhana seperti memilah sampah organik dan anorganik serta memahami bahwa sebagian limbah masih dapat dimanfaatkan kembali. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sejak dini.
Melalui kegiatan PKM di SDN 012 Terusan, ITP2I berharap pengetahuan mengenai pemanfaatan maggot dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan komitmen ITP2I dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi dan pengabdian kepada masyarakat, dengan mendorong pemanfaatan potensi lokal untuk mewujudkan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.****rls/Ep